Wednesday, February 12, 2014

Tentang Viral Campaign


Ini untuk merespon komentar temen-temen di milis kantor, tentang pola, peran dan efektivitas viral campaign.



Beriklan di TV dan media konvensional itu seperti mengatakan "I Love You" sama gebetan lo. Semakin kenceng lo teriak, semakin kedengeran. Semakin konstan dilakukan, semakin menyiratkan lo serius.
Melakukan viral campaign itu seperti:
  1. Lo deketin gebetan lo, trus berbisik: Kamu tahu Cupid?
  2. Dan lo mesti sudah bisa menebak dan siap dengan jawaban apapun. Misal, dia menjawab, "Tau. Kenapa emang?".
  3. Maka lo lanjutkan dengan, "Tau gak, kalo Cupid itu gila?"
  4. Dan dia penasaran, "Hah? Maksudnya? Serius lo? Kok bisa?"
  5. Dan lo menjawab dengan tenang, "Iya. Cupid udah gila. Menebar anak panah dimana-mana...Sial, gw kena."
  6. Gebetan lo akan mikir sejenak,. Gunakan waktu itu untuk pelan-pelan pergi dari situ.
  7. Jangan lupa, lo janjian dulu sama temen-temennya yang ada di situ untuk ngomong, "cieeee...cieeee". Agar pesan terkontruksi. Agar ambience terbangun.


Melakukan digital campaign dengan membayar SEM, Facebook Ads, bikin kuis berhadiah itu seperti kirim SMS berisi “I LOVE YOU” ke gebetan lo. Semakin banyak lo abisin pulsa, semakin sering melakukan itu, semakin gebetan lo merasa kehilangan ketika lo berhenti.
Sementara,
melakukan viral campaign itu seperti lo kirim SMS dengan konten:
Jam 10 malam.
SMS pertama berisi sepotong kalimat: “Malam…”
Ia mungkin membalasa SMS Anda, tapi JANGAN HIRAUKAN.
Jam 12 tengah malam,
Silakan kirim sepotong kalimat lagi, “…menggantung”
Ia akan kembali membalas dengan “apaan sih..”, tapi ingat, ABAIKAN SAJA.
Jam 3 pagi,
“hingga pagi memetik…”
Jam 5,
“tetap saja kamu di kepalaku.”
Selesai.
Jangan terima telpon darinya di pagi nanti.
Ia bisa saja tidak tidur. Penasaran dan berkeringat dingin. Menerka-nerka, Anda yang sedang mendekatinya itu Cassanova atau Hantu pohon asem.
Dan Anda punya kesempatan mendapat tempat di hatinya, lalu jadian, atau sekedar PHP-an.
Tapi TIDAK UNTUK ANDA NIKAHI. Sebab dalam waktu 2 minggu kemudian ia akan tersadar betapa Anda ternyata bukan siapa-siapa. Ia akan meninggalkan Anda yang sibuk membuat puisi-puisi lain di kamar sumpek tanpa cahaya dan hanya menyisakan luberan kerak kopi kering di pinggir cangkir. Ia memilih menikahi lelaki lain yang lebih mapan, dari keluarga baik-baik dan memiliki figur bapak yang baik untuk anak-anak lucu. Dan bisa bangun pagi untuk main sepeda.
Itu sebabnya Viral Campaign hanya berperan untuk membuat sensasi. Meletupkan kembang api di kepalanya. Meningkatkan serotonin di badannya untuk mengesitkan efek ekstasi.
Untuk menikahi konsumen, Anda memerlukan komitmen untuk konsisten menjemputnya tiap pulang sekolah, mengingat hari ulang tahunnya, mengajaknya makan malam, bermain sama keponakan-keponakannya, dan menghadiahi calon mertua Anda jam tangan di perayaan anniversary mereka dari hasil gaji pertama Anda.
Jangan lupakan brosur, billboard, talk show radio, event-event di acara keluarga, POP/POS, menyediakan SPG yang mumpuni, serta layanan konsumen 24 jam. Agar Anda tampak seperti calon suami yang baik.
Nah, semoga Sakinah Mawahdah Warrohmah.

Wednesday, October 24, 2012

Digital Marketing, Katanya.

Ngerasa kejebak gak sih sama digital marketing?

Saya sih iya.

Terjebak sama janji dan pernyataan-pernyataan kita sendiri.

Dulu, sewaktu banyak klien belum percaya sama efektivitas internet dan media digital, kita keukeuh bilang bahwa media ini akan jadi kekuatan besar di masa depan. Masa depan yang harusnya dimulai dari sekarang.

Tapi tentu saja klien korporasi tidak mudah percaya terhadap prediksi yang lebih mirip penerawangan mistis ini. Hitung-hitungannya harus jelas. Angka harus dipaparkan di papan tulis. Kalau di media konvensional kita mengenal istilah Cost Per-Million (CPM) -- rasio bujet dengan eksposur. lalu digital marketing punya apa?

DEGH!

Ini dia celahnya! Langsung saja kita menyerocos panjang lebar tentang kemampuan ukur digital marketing. Jika Nielsen yang sudah tua saja hanya mampu mengukur rating dengan people meter di kota-kota besar, kita dengan yakin mengatakan (waktu itu) : DIGITAL MARKETING ADALAH AKTIVITAS PEMASARAN YANG PALING TERUKUR!

Dengan iming-iming kemudahan menghitung ROI, klien pun mulai tergoda. Sedikit-sedikit mulai menyisihkan uang belanja dari istri lama bernama media konvensional, untuk istri baru: digital marketing.

Sekarang, memiliki aset digital adalah keharusan. Kalo departemen markom tidak berinisiatif, pemilik perusahaan yang langsung meminta. Angka-angka yang ditawarkan sosial media memang menggiurkan.

Maka semua brand membangun aset digital. Website, facebook, twitter. Tapi gimana caranya supaya konsumen tahu tentang aset ini? Maka mereka membuat aktivitas. Aktivitas apa yang terbukti dengan cepat membuat orang berbondong-bondong mendatangi aset digital? Kuis berhadiah. Aha, mereka memang datang! Artinya kampanye kita berhasil! Tinggal bikin laporan nih. Ayo bikin hitung-hitungan KPI: hit, visit time, bounce rate, jumlah fans, jumlah follower, jumlah ReTweet.

INILAH JEBAKANNYA.

Sebuah keniscayaan, bahwa: bikin aset digital -> bikin aktivitas -> bikin kuis berhadiah -> syarat untuk menang adalah melakukan LIKE -> karena KPI dari klien adalah jumlah Fans.
Jebakan yang membuat kita semua lebih bodoh dari semula. Dulu kita menertawakan sistem rating, sekarang kita ditertawakan pemenang kuis yang Quiz Hunter: emang gw peduli sama brand lo. Yang penting menang.

Lalu kebodohan ini kita bawa dengan bangga ke meja klien. NIH! Hebat kan kita? Tercapai loh KPInya! Hahahaha, mari makan-makan, agency yang bayarin yaaa....

Lalu kebodohan yang sama, dibawa oleh tim markom-nya klien ke direksi. NIH! Facebook kita disukai dan memiliki fans lebih dari sejuta orang!

Direktur keuangan klien senyam-senyum. Jika dulu untuk mendapat exposure 10 juta orang, kita harus pasang iklan TV di program acara dengan rating 10. Biasanya sinetron di prime time. Biayanya, puluhan milyar. Sekarang, dengan membagi 2 buah Ipad saja bisa 1 juta orang. Maka, tinggal bagikan Ipad 20 buah, maka akan tercapai 10 juta exposure!

KITA semua terjebak di lubang yang sama. Sambil makan-makan dan berpesta.

Kelemahan komunikasi media massa pada zaman dulu adalah kegagapannya menghadapi audiens yang heterogen. Iklan di media adalah komunikasi vertikal. Sebodo amat Anda anak siapa, kalangan mana, atau sebodoh apa, iklan menggunakan pendekatan, cara dan bahasa yang sama. Satu iklan besar yang dibaca semua orang dari banyak golongan.

Komunikasi di sosial media harusnya horisontal. Penentu isu bukan lagi penguasa negara, tapi kita semua. Berita yang mau kita baca tidak lagi ditentukan pemimpin redaksi, tapi kita semua. Anda mau jadi judul berita di halaman depan? Buatlah kegaduhan di internet.

Maka berhentilah berkomunikasi satu arah. Berhentilah berpikir bahwa Anda punya isu dan informasi paling penting bagi masyarakat semua: hey! datanglah ke fanspage kami, kami punya info penting tentang produk terbaru, maka kami akan kasih Anda hadiah.

BERKAH INTERNET 2.0 SESUNGGUHNYA, bukan karena dia mampu berkomunikasi lebih cepat, menihilkan jarak, menyebarkan lebih simultan, dan bukan karena membuat biaya kampanye komunikasi lebih murah. TAPI KARENA INTERNET MAMPU MENCIPTAKAN RUANG DIALOG.

Maka ujung tombak kehebatan sosial media Anda justru terletak pada admin-admin sosial media. Orang-orang yang berdialog dengan konsumen Anda. Orang-orang yang dengan mudah meluluhlantakkan kampanye PR Anda, jika tiba-tiba dia menulis: udah ah capek berbusa mulu, belom dibayar sih!

Saya masih ingat, sewaktu kecil saya pernah bercita-cita kerja di perusahaan es krim. Gara-gara baca artikel di majalah, ada seorang yang dibayar amat mahal, karena dia satu-satunya orang dengan lidah yang dipercaya untuk quality control. Bayangkan enaknya kerja di situ. Dibayar tinggi cuma untuk nyicipin es krim!

Susahnya berkomunikasi di sosial media adalah, korporasi harus berubah jadi entitas manusia di sana, supaya bisa berdialog dengan manusia lain. Akibatnya, brand image dan ekuitas Anda akan sangat tergantung pada personal admin sosial media. Seperti perusahaan es krim raksasa yang menggantungkan karakter dan personifikasi rasa produknya pada si pencicip.

Kenyataannya, benarkah kita memiliki kemewahan untuk mewenangkan semua aset sosial media tiap satu brand kepada hanya satu orang? Sebaliknya juga, mungkinkah setiap satu orang admin memegang hanya satu brand?

Lalu, pernahkah kita benar-benar peduli pada setiap posting mereka? Setiap jawaban yang mereka berikan? Tidak usah jauh-jauh, apakah Anda sudah menceritakan sejarah perusahaan dan memberikan product knowledge penuh pada mereka? Menularkan visi dan semangat pendiri perusahaan? Rela membuka "daleman" dan telanjang bulat di hadapan admin sosial media, agar mereka bisa bijak dan mampu diplomatis menjawab, menghindari dan bahkan menjadi spinning doctor pada isu sensitif?

Berat ya?

Saya permudah deh.

Mulailah dengan berhenti menjadikan jumlah fans dan follower sebagai satu-satunya KPI.

Sekedar ide sederhana nih,
Mulailah dengan menjadikan DURASI DIALOG sebagai pengukuran.

Gampangnya gini, performa admin sosial media dinilai dengan "seberapa lama Anda bisa berdialog dengan konsumen". Jadi tugas mereka bukan sekedar "melempar" yang sudah diterakan dalam editorial plan, tapi juga mempertahankan obrolan. Karena artinya, kemungkinan engagement tercipta lebih besar.

Gimana?

- This article also posted at channel #Obrolan_Social_Media @ Mindtalk.com > http://www.mindtalk.com/Obrolan_Social_Media#!/post/50652efdf7b7307fa000007e

#3 Mengenal Konsumen Yang Bingung

Seperti juga cita-cita lain, untuk menjadi konsumen juga perlu usaha. Tidak perlu masuk akademi atau sekolah tinggi konsumen, tapi tetap memerlukan kerja keras dan kesungguhan. Nah, supaya kita berhasil kesurupan konsumen, cara pertama yang harus dilakukan adalah menjadi konsumen yang bingung. 


Cobalah ingat-ingat rasanya menjadi konsumen yang bingung. Mari kita ilustrasikan betapa bingungnya konsumen saat bertemu dengan Anda yang sedang survey.

Anda bertanya.


“Kenapa beli itu?”


Sebagian menjawab:

“Mmmh kenapa ya?”

“Lucu ajah!”

“Abis pengen sih!”


Ada juga yang jawab:

“Gak enak udah pegang-pegang, masak gak jadi beli.”

“Kasihan sama penjualnya.”

“Tauk ah.”


Ada yang berusaha menjawab dengan benar:

“Kualitasnya bagus”
 Nah, jawaban seperti ini bisa ditarik terus jadi pembahasan yang teramat panjang. 


“Batik ini bahan dasarnya sutra yang diambil dari liur ulat organik. Maksudnya, tidak diternakan tapi memang dicari. Dilukis cairan lilin dengan ketebalan yang diperhitungkan dan canting berpresisi terbaik. Pewarnanya dari alam, kebanyakkan kulit kayu. Malam dilunturkan di derajat air panas yang pas, jadi memberi kesan serapan yang bagus pada warna. Lalu dijemur dan diangin-angin di pesisir pantai utara yang anginnya gak terlalu besar, kelembapan udara pantai juga menambah kekuatan bahan.”


Siapa yang membuat parameter di atas untuk menentukan tingkat kualitas batik? Boleh minta hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ulat sutra non-ternak menghasilkan liur lebih halus? Kalaupun iya, betulkah sutra halus itu lebih cocok untuk kulit manusia?

Derajat air untuk meluluhkan lilin tentu hasil dari pengalaman mereka yang pernah mencobanya. Tapi siapa yang akhirnya menentukan, “ah akhirnya menemukan warna yang pas"? Pendapat kolektif? Atau dulu ada seorang pengrajin dituakan yang sangat dihormati mengatakan begitu? Atau kebetulan ada seorang pengrajin dengan produk yang sangat laku keras, lalu semua orang mencontek standar prosesnya? Betulkah karyanya lebih laku karena warna? Bukan karena istrinya yang cantik? Yakin?


Atau,


“Soalnya good deal ini. Harganya bagus!”

Setelah dihitung dengan ongkos jalan masih lebih murah? Kalau ditambah waktu yang terbuang mengantri 5 jam untuk bayar? Jika Anda membelinya tahun depan, dengan memperhitungkan inflasi, lebih good deal yang mana? Atau coba ingat lagi pertanyaannya, “kenapa beli itu?”, kebutuhan sebelah mana dari diri Anda yang terpenuhi? Kenapa tidak beli tanah saja yang stabil dan aman? Kenapa tidak memberi zakat saja yang sudah jelas-jelas investasi untuk mendapatkan good deal di akhirat nanti?


Sebab mungkin alasan sesungguhnya seorang konsumen membeli bukan karena “good deal” secara rasional. Tapi mungkin karena kepuasan emosional bisa membeli dengan harga lebih murah dari teman sekantor yang pernah membelinya dengan harga reguler. Pemenuhan kebutuhan sosial. Supaya besok bisa cerita pada jam makan siang.


Atau,

“Saya lagi butuh.”


Wah, perspektif kebutuhan ini kalau dibahas bisa membuat para ahli berbagai macam ilmu saling bertengkar hebat, bercerai dengan pasangannya, lalu bunuh diri. Yang sudah wafat akan bangkit dari kubur. Yang masih di kandungan jadi minta lahir awal atau malah urung keluar. 


Pokoknya tidak akan pernah ada jawaban singkat yang betul-betul menjelaskan alasan konsumen menentukan pilihan dan melakukan pembelian. Jawaban awal dan singkat dari konsumen tidak akan berbeda jauh, bahkan cenderung sama. Inilah jawaban basa-basi. Jawaban yang mirip dengan ucapan “halo” di telepon – yang seharusnya sapaan “halo!”, namun dilafazkan dengan “halo?”. Jawaban refleks yang terkonstruksi.


Sebab jawaban sesungguhnya tidak akan pernah generik. Kalau pun ada yang mirip, pasti dilatari oleh alasan yang berbeda. Kalau pun ada alasan yang sama, pasti merujuk kondisi yang berbeda. Kalau pun masih sama juga, itu pasti karena yang ditanya pembedaharaan kata-nya terlalu sedikit.

#2 Konsumen Itu Selalu Bingung. Maka Anda Juga Harus Ikut Bingung.

(Sambungan dari tulisan sebelumnya)

Kalau Anda gagal jadi selebritas, tapi sudah terlanjur jadi orang iklan, saran saya sebaiknya Anda nikmati saja pekerjaan itu sambil bersyukur dan melakukannya dengan TOTAL. Ketika sudah menetapkan diri di industri iklan, maka mau tidak mau Anda juga harus memutar haluan dan cara pandang Anda juga.

Lupakan dulu cita-cita membeli Macbook. Hentikan dulu memikirkan, “warna rambut gue bulan ini apa ya?”. Stop dulu menghabiskan gaji bulanan Anda membeli buku grafis impor yang tebal-tebal. Berhentilah sementara langganan majalah kreatif, majalah software desain, atau majalah marketing.

Kecuali target audience Anda adalah pembaca majalah yang saya sebutkan tadi, atau mereka yang gemar bergonta-ganti warna rambut atau memang seorang ahli marketing, tinggalkanlah dulu kebiasaan-kebiasaan itu. Setidaknya sementara, sampai Anda sudah benar-benar berani dan yakin untuk total industri ini.

Sebab cita-cita Anda kali ini haruslah menjadi seorang: konsumen.

Karena klien membayar Anda bukan untuk menjadi Basquiat atau Andy Warhol. Bukan untuk menjadi Al Ries dan Hermawan Kertajaya. Anda menerima gaji untuk berpura-pura, membayangkan, menyelami, mencintai lalu berpikir, berprilaku dan bersikap, sebagai seorang konsumen.

Mungkin, sebagai konsumen, Anda jadi senang sama iklan TV yang ujung ke ujung cuma nyanyiin lagu terkenal - dengan sedikit plesetan mengandung merek pada liriknya. Bisa jadi Anda senang sebuah iklan yang talentnya anak kecil yang mirip sama anak Anda. Anda begitu senang iklan-iklan itu, karena tidak tahu bahwa konsepnya basi, lagunya lawas dan si kreator hanya meminjam ketenaran sang lagu. Juga, karena Anda juga tidak pernah tahu ungkapan, “if you can’t sell it, sing it.”

Mungkin, sebagai konsumen, Anda sungguh sangat sebal dengan iklan TV durasi 5 detik yang diulang tiga kali. Saking sebalnya sehingga Anda membicarakannya dengan teman-teman, sambil memeragakan gerakan iklan di TV itu, sambil membuat wajah tolol agar semua orang tertawa. Sebagai konsumen, Anda mungkin malah jadi tertarik mencoba ketika tanpa sengaja melihatnya tergantung di etalase warung. Anda ingat, justru karena Anda sebal.

Eh, lalu uang kembaliannya tanggung, jadi Anda juga mengambil snack merek lain di sebelahnya. Meskipun belum pernah liat iklannya.

Mungkin, sebagai konsumen, Anda langsung membeli air minum dalam kemasan merek ANU begitu Anda bertemu Megan Fox yang langsing di sebuah resepsi pernikahan teman, dan ia sedang menenteng botol ANU! Tapi besoknya Anda bertemu lagi dengan Fox di resepsi yang lain – dan masih menenteng ANU – lalu Anda langsung memutuskan untuk tidak lagi membeli ANU karena Anda anggap si Fox sungguh bukan tamu yang sopan – tidak mau menyicip suguhan minum dari tuan rumah dan malah bawa sendiri.

Mungkin, sebagai konsumen, Anda berpikir membeli celana jeans seharga satu juta adalah sebuah kebodohan. Karena itu berarti Anda harus menjual sebanyak 10.000 sachet vetsin untuk dapat margin sejuta rupiah. Satu juga adalah angka yang besar, meski Anda adalah seorang raja ritel warung penjual sembako. Dan celana jeans itu tadinya mau Anda pakai untuk pembukaan cabang ke-53. Tetap saja mahal, karena Anda terbiasa menghitung margin dari satuan vetsin atau bawang.

Mungkin, sebagai konsumen, Anda amat kesal jika terus diintil SPG toko, merasa dicurigai sebagai pengutil. Tapi Anda juga ngomel-ngomel kalau mau bertanya tak ada satu pun SPG yang menampakkan hidungnya.

Betapa bhineka, majemuk, plural, sulit ditebak, susah diterka, aneh, tidak biasa, terlalu sensitif dan banyak maunya, mahluk bernama konsumen ini. Kompleksitas konsumen ini harus terhadirkan dan tergali di dalam ruang meeting klien yang dihadiri perwakilan divisi produksi, distribusi dan pemasaran. Maka, jika tiba saatnya Anda melakukan presentasi kepada klien, dan hendak membuktikan sebagai agensi iklan terhebat sejagat raya, pertanyaan pertama yang harus muncul di benak Anda adalah:

Betulkah Anda mengenali konsumen Anda?

#1 Tak Jadi Artis, Jadi Orang Iklan Bolehlah...

Kalau sedang mengunjungi kerabat yang jarang bertemu, saya sering ditanya, “kuliah di mana?”. Ini tentu terjadi waktu saya masih jadi mahasiswa.

Lalu saya jawab, “Fikom.”

Lalu ditanya lagi, “apa tuh?”

Lalu saya jawab lagi, “Fakultas Ilmu Komunikasi.”

Lalu sejenak diam.

Lalu akhirnya direspon juga, “oooh.”

“Berarti nanti kalo sudah lulus, kerjanya di TELKOM ya?”, tanya Bude saya lagi.

Pakde saya yang menyahut, “bukan telekomunikasi Bu, tapi komunikasi!

Ah, Pakde ternyata pintar!

Dan pakde meneruskan lagi dengan yakin…

“Nantinya yaa jadi wartawan!”,

Lebih sebal lagi kalau kita mau iseng mendengar pikiran mereka. Karena pertanyaan sesungguhnya di benak mereka adalah, “Orang berkomunikasi saja kok harus kuliah. Orang tinggal ngomong doang.”

Tapi itu dulu. Zaman FIKOM masih sering dilafal sebagai FITKOM. Atau PIKOM di daerah tertentu. Zaman orang-orang tua masih berpikir kalau kuliah itu ya kalo tidak jadi dokter, berarti jadi insinyur. Atau setidaknya jadi sarjana hukum supaya bisa naik eselon pegawai negeri.

Sekarang beda lagi.

Dulu, teman seangkatan saya di FIKOM tidak lebih 50 orang. Sekarang, anak-anak SMA berbondong-bondong mendaftarkan diri di Fikom. Mereka biasanya janjian berkumpul di rumah salah seorang, naik satu mobil bersama-sama, mengambil formulir berderet-deret, lalu pulangnya mampir ke mall dan coffee shop untuk dapat WIFI gratis, lalu tanpa sengaja bertemu lagi teman-teman sekelasnya, yang ternyata juga, “Ngambil apa lo? Gue Fikom. Apa? Lo juga? Fikom? Hahaha.”

Atau Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tapi Program Studi Komunikasi. Atau Fakultas Ekonomi tapi jurusan Komunikasi Pemasaran. Atau Fakultas Seni Rupa tapi jurusan Komunikasi Visual. Atau Institut Pertanian, tapi jurusan Komunikasi Lingkungan.
Setelah lulus, sebagian besar dari mereka diserap kerja oleh kantor media massa, menjadi PR di perusahaan-perusahaan, atau bekerja di perusahaan iklan. Dan sebagian lumayan lagi, menjadi selebritas.

Loh? Seleb? Iya.

Mereka, menjadi reporter televisi yang terjun ke lapangan, mulai dekat dengan para narasumber, berwajah sedap dipandang dan bersuara merdu, lalu mulai dipekerjakan menjadi news anchor, muncul setiap saat, dan menjadi terkenal.

Mereka, menjadi tim produksi di stasiun TV, lalu ternyata punya bakat lebih “tampil” daripada artis yang diundang: bernyanyi lebih serius sewaktu sound check, atau melawak sesering mungkin sewaktu brainstorm, lalu produsernya merasa mendapat berlian dengan harga ekonomis yang tinggal digosok, lalu dipilihlah ia ikut mengisi acara dan jadilah terkenal.

Mereka, menjadi penyiar radio, sering didatangi musisi yang sedang promo album, sering dapat kerja sampingan sebagai MC, lalu mulai diajak jadi presenter program TV, lalu jadi terkenal.

Mereka, menjadi PR di tempat clubbing, nemenin para seleb mabok, trus sering hang out bareng, lalu ikut terkenal.

Juga para orang-orang iklan.

Mereka, bekerja di agensi iklan, lalu saat butuh talent mulai malu-malu menawarkan diri, atau setidaknya menemani sang talent yang artis selama syuting, lalu jadi dekat, lalu terkenal juga.

Jadi cita-cita mereka sebenarnya adalah jadi seleb.

Setidaknya bisa datang kerja dengan dandanan seperti seleb.

(Bersambung. Ini tulisan pertama dari rencana beberapa tulisan yang gak tau bakalan jadi berapa seri.)

This article also posted on channel #catatan_mlipir @Mindtalk.com

Friday, March 30, 2012

Tunda Dulu Korupsi!

(Ditulis setelah terjebak macet di depan gedung DPR Senayan, 30 Maret 2012)

Bapak Presiden dan segenap aparat pemerintah,
tidak akan ada yang mau dibayar untuk demonstrasi jika rakyat Anda cukup sejahtera…
Maka saran saya: berhentilah dulu korupsi.

1.
Tingkatkan akses masyarakat atas pendidikan. Bukan hanya menggolkan sektor pendidikan mendapat 20% bagian dari RAPBN. Tapi juga mengawasi pemanfaatan dana tersebut dari hulu ke hilir. Melakukan re-orientasi pendidikan di Indonesia, hingga pembenahan kembali kurikulum. Anda semua harus berani berinventasi untuk sektor yang tidak seksi ini. Karena memang hasilnya baru akan terlihat pada puluhan tahun berikutnya.

Kesalahan kita sejak dulu adalah mengacuhkan pendidikan sebagai bagian dari pembangunan. Anda membangun jalan, membangun gedung-gedung tinggi, menebar lampu-lampu jalanan, membangun jembatan, tanpa membangun manusianya dengan pendidikan. Maka jalan Anda yang mulus itu harus diberi polisi tidur agar pengendara sedikit intelek bermain kecepatan, lampu-lampu di halte harus dikerangkengi agar tak dicuri, gedung-gedung besar diisi oleh ekspatriat dan orang kita cuma kebagian area pantry. Jembatan pun harus sering Anda perbaiki karena besi-besinya hilang.

 Berhentilah “membangun” infrastruktur fisik. Walaupun akan banyak dari Anda yang kehilangan lahan basah proyek.

2.
Lupakan BUMN raksasa, hentikan berkubang di kilang minyak, tahan hasrat berenang di kolam moneter. FOKUS pada maksimalisasi koperasi dan UKM!

Krisis dunia kemarin membuktikan, Indonesia menjadi Negara tangguh, bahkan dengan pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan dunia. Sungguh, bukan karena kehebatan tim moneter Anda. Tapi karena kemampuan ekonomi mikro rakyat Anda. Karena kemampuan masyarakat menyediakan barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kekuatan bertahan itu bernama sektor ekonomi riil yang disokong penuh oleh UKM dan “koperasi-koperasi” organik yang tidak didaftarkan.

Maka berhentilah menghadiahi posisi Menteri UKM dan Koperasi pada orang dekat yang tidak kapabel. Menteri yang sekarang adalah sesepuh partai Anda yang program terlihatnya hanya membuka pameran produk UKM. Menteri sebelumnya pun Anda berikan pada ketua partai koalisi, yang kalau tidak jadi Menteri Koperasi dan UKM, ya bisa jadi Menteri Dalam Negeri, bisa jadi Menteri Agama, bisa jadi Menteri “pajangan” lain, tergantung seberapa besar partainya menyumbang suara.

3.
Dan jika Anda memang berniat mengalihkan subsidi BBM ke Bantuan Langsung Tunai, tolong kerjakan dengan benar. Tolong pastikan raja-raja kecil di daerah tidak memanfaatkan program ini untuk memperpanjang masa kekuasaan mereka. Sebab yang sering terjadi, bantuan dari pemerintah apapun nama programnya, dijadikan kail untuk memancing suara. 50 persen diberikan sekarang kepada rakyat yang kelaparan, 50% persen lagi diberikan (istilahnya: programnya akan diteruskan) jika mereka kembali terpilih.

***
Setelah kami semua kaya raya, tak akan ada yang mau berpanas-panas demonstrasi. Setelah kami semua berpendidikan tinggi, kami akan lebih memilih menulis artikel di Koran untuk menyampaikan protes dan tidak dengan membakar ban. Setelah kami memiliki UKM yang sehat, dan dapat hidup karenanya, kami tak akan lagi peduli berapa banyak BUMN dan perusahaan blue-chip yang Anda privatisasi dan jual ke pihak asing, toh kami sudah punya perusahaan sendiri.

Setelah itu semua terjadi, silakan kembali korupsi.

Friday, December 17, 2010

Arsitek Cinta


Kalil Kalbi, anak kami, lagi lucu-lucunya. Umurnya 2 tahun, pecicilan, semua dipegang terus dikomentarin, dan pipinya enak dicubit. Jadi kalo saya dan bubu-nya (panggilan Kalil buat Ibunya) lagi capek ngurusin dia, kami bawa dia ke tempat sodara atau temen.


Tujuannya? Ini:

“Eeeh Kalil udah besar…lucu banget siiih…sini..sini maen sama Tante!”


Nah, itu artinya kami punya kesempatan sekitar satu jam untuk berleyeh-leyeh meluruskan kaki sambil ngobrol tenang. Istirahat sejenak mengalihkan konsentrasi dari Kalil.


Memang cuma satu jam, karena biasanya sang handai taulan itu kemudian mengembalikan Kalil kepada kami dengan tsunami keringat plus wajah panik seperti habis lomba lari bareng cheetah. Karena kecapekan, atau karena koleksi pajangan kristalnya sudah patah satu.


Bukannya kami tidak bersyukur dan berusaha menghindar. Kalil adalah anugerah paling dahsyat yang membuat kami sering tidak percaya Tuhan memercayakan anak sehebat itu pada kami. Tapi ibarat dapat hadiah undian mobil mahal – yang sering membuat orang terjaga dari tidur dan sebentar-sebentar mengecek garasi – Kalil amat menguras tenaga.


Minggu kemarin, saya ajak dia ke kantor. Dan seperti biasa, diajak main sama temen-temen kantor yang perempuan (kenapa cuma perempuan? Laki-laki kalo ketemu anak kecil persis kayak ketemu cewek cantik. Bingung memulai pembicaraan). Besoknya, Kalil masih jadi topik sapaan pembuka.


“Mas, anaknya lucu ya. Mirip siapa sih?”

“Anak lo kok lincah banget, gak kayak elo yang pendiem?”

“Pagi Mas. Ngomong-ngomong, seneng banget ya punya anak pertama cowok. Bisa diajak maen sama bapaknya.”


Biasanya saya menjawab dengan cengar-cengir (kenapa cengar-cengir? Laki-laki kalo ditanya begituan sama seperti ditanya tentang kapan memenuhi janji menikah. Bingung harus jawab apa. Hehe.).

Sampai hari ini, masih ada pembicaraan tentang Kalil. Tapi yang ini sebuah pertanyaan (atau pernyataan ya?) yang membuat saya berpikir lebih panjang sebelum menjawab.


“Gue pengen punya anak. Pengen banget. Tapi kok rasanya sangat egois kalo gue punya anak cuma karena kepengen. Lo kenapa dulu memutuskan punya anak?”


Sial. Pertanyaan itu membuat saya berpikir keras untuk menemukan jawabannya - atau justifikasi karenanya. Jangan-jangan, saya dan istri memutuskan untuk memiliki anak karena kita memang egois.


Hanya untuk memenuhi keinginan kita pribadi: supaya hidup gak membosankan, gak lagi dicerewetin mertua, ada tubuh mungil buat digemesin, menyalurkan hasrat belanja baju-baju anak yang lucu, jadi bisa nebeng beli koleksi mobil-mobilan dengan alasan buat anak nanti kalo sudah besar, menjadi sosok untuk dikangenin saat pulang ke rumah, sebagai alasan agar pasangan tidak jadi lembur di kantor, pembuktian kesuburan, agar ada bahan obrolan waktu arisan, bahkan untuk dijadikan korban pelampiasan saat sedang kesal sama pasangan dan tumbal untuk menitipkan mimpi-mimpi kita tentang hidup dan masa depan. Ada juga yang memutuskan memiliki anak untuk merekatkan hubungan yang renggang. Para orang tua ternyata EGOIS.


Malamnya, di rumah, saya akhirnya menemukan sedikit pencerahan untuk menjawab pertanyaan sialan itu.


Begini,

mungkin kita memang melakukan kesalahan dengan memutuskan memiliki anak karena alasan-alasan egois tadi. Tapi tugas manusia di dunia ini memang membuat kesalahan. Asaaal, setelah itu kita belajar. Belajar untuk memperbaiki kesalahan. Jadi buatlah kesalahan banyak-banyak, lalu belajarlah lebih banyak lagi (ada juga sih manusia-manusia yang lebih pintar: belajar dari kesalahan orang lain).


Dan ketika kita, orang tua, sudah melakukan kesalahan dengan memiliki anak, secara sadar atau tak sadar, kita menjadi “terpaksa” belajar.


Prosesnya?

Sang anak lahir. Lucu, menggemaskan, pengennya ngeliatiiiin mulu. Timbulah rasa memiliki. Sang anak mau dibawa ke mall, maka harus didandani sekeren mungkin biar gak malu-maluin. Si anak harus bisa dibanggakan karena kepintarannya, maka disekolahkannya di sekolah bagus. Maka kita berinvestasi besar-besaran.


Setelah itu, siapa yang rela kalo anak yang dulu dibelai-belai lembut ini dipukulin orang di jalan? Siapa yang rela kalo anak yang dibiayai mati-matian untuk sekolah ini jadi suram masa depannya? Kita jadi teramat peduli dengan apa pun yang terjadi padanya. Timbullah CINTA. Tanpa sengaja. Tanpa disadari kita jadi mahluk yang sama tapi dengan kadar cinta yang menjadi luar biasa.


Jadi inilah alasan sesungguhnya kita memiliki anak: untuk memuliakan hidup dengan menebar cinta. Dalam ketiba-tibaan kita berubah menjadi mahluk yang tak lagi egois. Dalam ketidaksadaran kita menjadi mahluk yang sangat peduli pada orang lain. Betapa mulianya kita, para orang tua.


Dan malam ini, saya juga tiba-tiba sadar kenapa dulu kami kok bisa menamakan anak kami KALIL KALBI, yang artinya: Kekasih Hati. Sebab karenanya-lah, kami jadi punya profesi dalam hidup: Love Architect.


Jakarta, 17 Desember 2010

Wednesday, September 22, 2010

Get Lost in Indonesia!

-->

Ah, sudahlah.
Mendengar keluhan-keluhan tentang Indonesia membuat saya letih. Tapi mendapati kehebatan dan kelebihan negeri ini juga ternyata lebih melelahkan.
Sebuah bangsa yang katanya besar. Negeri yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum. Zamrud khatulistiwa yang terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudera Hindia dan Pasifik. Yang konon memiliki daratan sepanjang 1.922.570 km², dengan 3.257.483 km² panjang perairan, 95.181 km garis pantai, punya 17.504 pulau, lebih dari 53 gunung, 500 lebih suku, 742 bahasa daerah, lebih dari 300.000 spesies liar, 515 jenis mamalia dan 1.539 jenis burung, bahkan dari semua jenis ikan yang ada di dunia 45%-nya ada di Indonesia, dan tentu saja 240 juta penduduk.
Tapi kenapa begitu sulit “menjual” bangsa ini? Kenapa tidak bisa kita leluasa menikmatinya? Kenapa begitu susah menjadi orang senang di sini? Dan kenapa begitu senang kita jadi orang susah?
Sewaktu Malaysia mengakui batik dan tari pendet sebagai kebudayaannya, kita semua kebakaran jenggot. Lalu terbirit-birit mematenkan. Tapi kok saya pesimis, tidak banyak yang rakyat kita bisa dapatkan dari usaha itu. Paten ya tinggal paten. Pengakuan di atas kertas. Dan tidak signifikan mengurangi antrian pembagian zakat.
Jika Malaysia memroduksi batik berkualitas secara masif – lalu cukup menyantumkan tulisan Batik Indonesia pada labelnya – yang makmur yaa tetap rakyat Malaysia. Para pengusahanya, pekerjanya, distributornya, reseller-nya, penjual kain dasarnya, produsen lilinnya, produsen pewarnanya, perusahaan listrik dan airnya, mbak-mbak penjaga tokonya.
Kalau negara tetangga membuat pertunjukan Tari Pendet di festival pariwisata mereka, tentu saja nama Indonesia ada tertera kecil-kecil di brosur meja depan. Tapi yang kebagian rezeki yaa tetap panitianya, pemerintahnya, pemilik toko cenderamatanya, penjaga parkirnya, tukang kacang rebusnya, calo karcisnya – kalau ada hehe. Pendapatan mereka bertambah, tapi kita tidak. Karena rakyat kita tidak kebagian royalty sepersen pun.
Kenyataan ini yang membuat saya letih. Bahwa kita tidak bisa berbuat banyak atas itu.
Maka pada satu malam, saya brainstorming bersama 3 orang rekan. Di tempat nongkrong yang biasa, minum kopi yang biasa, situasi yang biasa. Yang tidak biasa cuma aturannya: kita berempat tidak boleh mengeluh.
Temanya: bagaimana memasarkan Indonesia. Lalu bagaimana menjadikannya bermanfaat untuk menggairahkan ekonomi mikro – sekecil apapun.
Tujuannya: InsyaAllah masuk surga.
Diskusi kami berangkat dengan mengidentifikasi masalah yang ada. Kenapa ya usaha mengangkat dan memajukan industri pariwisata Indonesia yang dilakukan lembaga eksekutif dan regulator kita tidak banyak membuahkan hasil? Atau paling tidak, kenapa usaha mereka tidak banyak kedengeran, bahkan di negeri ini sendiri?
Oooh…mungkin karena saking banyaknya keindahan dan kehebatan negeri ini, kita jadi bingung memilih unique selling proposition…bingung menentukan diferensiasi…bingung menetapkan positioning Indonesia sebagai brand…
Buktinya iklan-iklan pariwisata kita tidak pernah jauh dari gambar-gambar pemandangan nan indah. Buktinya Bali lebih tenar secara parsial karena dia lebih spesifik menjual pantai. Buktinya tagline pariwisata kita kerap berubah-ubah tanpa diikuti kampanye komunikasi yang jelas (2001: Indonesia, just a smile away. 2003: Indonesia, endless beauty of diversity. Belum setahun, dirubah lagi jadi: Indonesia, the color of life. 2004: Indonesia, ultimate in diversity. Entah yang sekarang-sekarang, sudah terlalu banyak yang harus diingat. Bandingkan dengan Malaysia Truly Asia yang didukung kampanye konsisten). Buktinya lagi, kita punya 17.504 pulau dan 9.634 di antaranya belum punya nama (50% lebih!) hehehe. Saking bingungnya.
Eh, sebentar. Kenapa tidak kita tularkan saja kebingungan itu pada dunia? Kenapa tidak kita “jual” saja semua kelebihan dan kekurangan kita apa adanya, lalu kita biarkan dunia yang menilai? Kita biarkan saja para turis itu datang ke Indonesia, lalu tersesat dengan berlimpahnya keindahan negeri ini!
Maka tema kampanye kita kali ini judulnya: GET LOST IN INDONESIA!
Tapi gimana caranya? Apa yang harus dilakukan untuk mengkampanyekan tema ini? Lembaga otoritas yang bekerja penuh waktu saja kerepotan menjalankan kampanye pariwisata, apalagi kami yang cuma berempat? Sebab, memang tidak mudah. Kampanye-kampanye sebelumnya saja, denger-denger, selalu dipenuhi justifikasi tentang kekurangan waktu, kekurangan biaya, kekurangan tenaga…
Kekurangan tenaga? Eh, sebentar. Bukankah kita punya 240 juta penduduk Indonesia? Penduduk sebuah negara terbanyak ke-lima di dunia?
Sekali lagi, 240 juta orang!
Yang 180 juta-nya adalah pengguna ponsel. Yang 40 juta di antaranya adalah pengguna internet. Yang 80% dari pengguna internet itu punya facebook. Yang menjadi negara pengguna Facebook nomer 2 di dunia. Yang jadi pengguna Twitter terbanyak nomer 3 di dunia. Yang, artinya, 240 juta orang dengan hobi berbagi yang amat sangat teramat dahsyat! Yes, we love to share.
Jadi kenapa tidak kita jadikan saja 240 juta orang itu sebagai pekerja kampanye pariwisata kita? Kenapa tidak kita serahkan saja masalah pendanaan, tenaga dan waktu pada mereka?
Maka jadilah, Get Lost in Indonesia sebagai user-generated tourism movement yang dimiliki dan digerakan oleh seluruh rakyat Indonesia!
Caranya?
Pergunakan kamera digital, manual, atau kamera ponsel Anda untuk menangkap apapun yang ada di Indonesia yang Anda pikir menarik. Bisa pemandangan, boleh makanan, bisa Pak Maman yang bekerja mengurut urat keseleo sambil mendendangkan pupuh kinanti, boleh tukang becak yang mengajak Anda berkeliling kota dan karena senang diajak bicara, lalu menolak dibayar. Masing-masing Anda pasti punya pengalaman unik. Cantumkan caption dan deskripsi pada setiap foto.
Lalu upload foto-foto dan cerita tersebut ke www.facebook.com/getlostinindonesia atau ke twitter @getlostisgood atau ke www.GetLostinIndonesia.com (website sedang dikerjakan dan segera tayang, akan kami kabari secepatnya).
Setelah itu?
Anda tentu boleh membantu gerakan ini. Anda boleh mengunggah dan mengunduh foto (dengan etika tentunya). Anda boleh menceritakan gerakan ini kepada siapa pun. Atau berbagi foto-foto yang ada kepada teman-teman Anda di dalam maupun luar negeri. Atau menyimpannya di laptop Anda, siapa tahu teman Anda tertarik lalu bertanya tentang lokasi foto. Atau mencetaknya dan sekedar menempelkannya di toilet rumah Anda agar siapa pun tahu tentang Indonesia. Boleh! Karena ini gerakan milik orang Indonesia.
Anda juga boleh berbincang langsung dengan pengunggah foto tentang lokasi dan memintanya bercerita lebih lanjut. Boleh juga menghubungi pemilik foto siapa tahu Anda bermaksud menggunakannya untuk kepentingan komersil. Boleh, sebab ini gerakan dari dan oleh Anda.
Sebab artinya, gerakan ini akan menyebarluaskan Indonesia secara organik. Juga membantu Indonesia menemukan kehebatan dan keindahan dirinya sendiri (tanpa perlu mengirim petugas untuk mendata, bukan?). Membantu tukang serabi di Gang Sejahtera berpromosi. Membantu UKM-UKM di Indonesia menyampaikan produknya kepada dunia. Membantu para turis menemukan shortcut kepada sumber informasi langsung (bayangkan, turis tak lagi perlu mencari brosur daftar museum, tapi langsung berhubungan dengan komunitas Sahabat Museum, misalnya).
Semoga semakin banyak potensi yang bisa diketemukan. Semoga semakin kencang suara kita didengar dunia. Semoga semakin banyak UKM yang terbantu pemasarannya. Tanpa perlu menunggu kebijakan apapun diputuskan.
Hmm. ..mengeluh atau bergerak. Gimana?

-   Arya Gumilar - 
Full-Time Indonesian.

Friday, September 04, 2009

Ngapain dipikirin

Cuma ada satu pertanyaan yang gak pernah bisa saya jawab.
Yaitu pertanyaan dari orang yang bertanya tanpa mengharapkan jawaban.