Wednesday, September 21, 2005

Sakura, Pupus atau Tahi Kebo?

Semuanya kembali seperti dulu...

Seperti sebuah dapur umum yang di dalamnya dimampatkan gentong air, kuah sayur, panci, perban, helm baja sekaligus korban perang. Segalanya campur aduk. Maka kenangan bersama mereka pun muncul seperti rasa sup ayam bercampur keringat koki. Atau bubur kacang hijau bercampur batu kecil. Terkadang lembut. Dan kadang harus siaga menggerus kerikil yang terkunyah. Kress…

Kira-kira begitu.

Akhir pekan kemarin saya ketemuan dengan beberapa teman lama. Mereka teman-teman satu kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata) sewaktu saya masih mahasiswa dulu. Tak mudah ternyata melupakan mereka. Dua bulan telah kami lewati bersama di sebuah desa di Jawa Barat. Tepat tiga tahun silam. Dalam sebuah suasana yang sulit diceritakan. Ada tangis, tawa, canda, jambak-jambakan, iri, marah, kasihan.

Seperti sebuah dapur umum yang di dalamnya dimampatkan gentong air, kuah sayur, panci, perban, helm baja sekaligus korban perang. Segalanya campur aduk.

Malam akhir pekan itu, kami jadikan semacam napak tilas. Untuk mengenang kembali masa lalu. Mengingat kembali hari-hari menjadi diri kami yang dulu. Menggali kembali kubur penuh nama dan menyatukan kembali belulang yang tertimbun tanah. Ah, kami memang terlalu tua untuk mengingat semuanya. Makanya perlu bertemu kembali. Agar bisa saling mengingatkan. Atau menyalahkan. Atau menertawakan lupa.

Eka, tak lagi sama. Ia dulu mahasiswa pertanian yang dipercaya dosen pembimbing kami jadi ketua kelompok. Sejak kelulusannya dari Unpad dan bekerja di pedalaman Kalimantan, ia banyak berubah. Batang rokok tak lepas dari mulutnya. Padahal dulu, dipaksa merokok pun tak mau. Seingat saya, ia hanya mau merokok bila saya menawarinya sebatang rokok sambil mengatakan, “Ka, sebatang rokok kemenangan”. Rokok itu, jadi semacam sampanye perayaan. Jadi semakin kami merasa bahagia, semakin banyak “rokok kemenangan” yang Eka hisap. Entah dengan Eka sekarang. Yang pasti, ia kini tak lagi puas dengan sebungkus rokok sehari. Mungkin terlalu banyak kebahagiaan yang ingin ia rayakan. Semoga.

Reza, tak lagi sama. Kini Reza tak lagi banyak bercerita. Reza bekerja di sebuah Bank dan ditempatkan di kota kecil. Mungkin ia banyak belajar di sana. Pengalaman berinteraksi dengan nasabah kota kecil, yang bila tak puas dengan pelayanan Bank langsung menghunus golok, mungkin banyak mengajarkan Reza untuk selalu bersikap hati-hati. Toh, kami tetap mengerti. Reza bukan jenis orang yang tega menyakiti mahluk lain dengan kata-kata.

Danik, tak lagi sama. Dulu, ia adalah sosok wanita berjilbab yang kami pandang “bulat” dalam menjalankan perintah agama. Kini, ia tetap berjilbab, tetap sopan dan tetap bulat. Bulat dan konsisten menjalankan hari-hari pacaran bersama seorang yang - menurut Danik sendiri - berandalan dan menganut agama berbeda dengan Danik.

Chania, tak lagi sama. Banyak perubahan dalam dirinya. Ia bercerita bahwa beberapa waktu lalu putus hubungan dengan kekasihnya. Padahal mereka sudah berencana menikah. Padahal Chania sudah berjanji mengubah pola hidupnya menjadi lebih teratur. Padahal ia sudah tak tahan ingin kawin. Dan ia pun berjanji untuk tetap menikah pada awal tahun depan. Dan tetap belum menemukan pasangannya. Dan tetap belum mau lulus kuliah sebelum mendapat jodoh.

Ami, tak lagi sama. Meski tetap bermata sipit seperti warga keturunan, padahal bukan. Meski masih berambut kuning seperti kaukasian, padahal bukan. Cewek yang dulu sering melewatkan malam dengan cekikikan mentertawakan teman-teman yang ia anggap teler minuman, padahal ia sendiri yang tengah mabuk. Entah berapa kali ia mematahkan lipstik teman cewek lain karena dipakainya untuk menggambari wajah kami yang sedang tidur lelap, padahal ia sendiri punya lipstik. Entah berapa batang rokok yang terbuang hanya karena Ami menyelipkan rokok tersebut di atas bibir salah satu dari kami yang tidur awal. Belum puas, ia nyalakan rokok tersebut sampai si korban terbangun dan menyumpah-nyumpah. Padahal Ami sendiri marah jika diganggu kala tidur. Kini, Ami-lah yang mengajak kami semua ke masjid. Ami-lah yang mengingatkan Danik untuk berhati-hati dalam sebuah hubungan. Ami-lah yang memarahi Eka karena tak henti menyulut rokok. Ami-lah yang bersedia menceritakan segala pengalaman pahitnya agar teman-temannya dapat belajar. Katanya,”semuanya bisa menjadi bunga atau malah tahi kebo. Tergantung kita-nya.”

(Ah sayang Tatang, Eva dan Sandra tak bisa datang. Padahal sudah kangen denger celetukan dan cerita dari mereka.)

Semuanya tak pernah kembali seperti dulu...

Sudah sepantasnya kalo tulisan saya kali ini lebih “garing” dari biasanya (yang juga garing). Saya memang cuma ingin sekedar bercerita. Sengaja saya gak mau menuliskan komentar atau tanggapan atau penilaian atau kutipan pustaka atau kata-kata bijak.

Karena mereka, buat saya adalah sudah suatu kesatuan cerita yang tak pernah “garing”. Sebuah prosa panjang yang tak ingin diakhiri dengan cerita sedih maupun gembira. Ceritanya sudah berawal pada huruf kapital kalimat pertama, dan masih mencapai klimaks pada titik kalimat terakhir. Yang entah kapan itu.

Dan juga karena, mereka selalu menerima saya, apa adanya, tanpa komentar.

8 comments:

Anonymous said...

itulah hidup...manusia selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu..




-peasants05-

ewink said...

Jadi salah dong kalo gw sekarang ngasih komentar...

yurishabaz said...

mmm....ada saatnya manusia berubah...dan perubahan itu perlu diberikan penghargaan...

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
mandymiller20761423 said...
This comment has been removed by a blog administrator.
rur said...

hal yang sama gue alami waktu buka puasa dengan teman - teman kuliah jum at kemarin.

semua tak sama.

tapi ya sekali lagi, hidup itu keras jendral!

aniwaiii I like your writings!

ekum said...

alus cing euy..nuhun pisan nte masih care ka barudax masih mere comment

ekum said...

cing...tong poho ka barudax nya' sanajan barudax geus berubah,da setiap orang mah dah punya jalannya masing2...betul gak