Wednesday, October 26, 2005

Ada Bakso Memakai Tank Top, Gak Pernah Senyum Makanya Bibirnya Merah Sebelah

Sudah lama gak makan bakso. Makan bakso pedas-pedas di malam hari saat bulan puasa adalah ritual. Meski saya bukan penggila bakso, tapi belom lepas hasrat kalau belum terlaksana. Belom beduk magrib rasanya.

Maka suatu malam selepas hujan, di kota Bandung yang dingin, pergilah saya dan pacar untuk makan bakso. Hehe, rasanya seperti jaman Benyamin Sueb dan Ida Royani, yang kalau pacaran janjian di tukang bakso.

Pacar saya tahu semua tempat makan bakso enak di Bandung.
Kali ini kita ke Mang Ja'i, katanya. Oke, kata saya.
Dari sore sudah saya siapkan lidah untuk mencicip. Jangan sampe terlewat sebutir pun lada. Semua mesti mampir untuk dideteksi indera perasa. Siapa tahu terlatih mengecap rasa, kan bisa jadi ahli kuliner macam Bondan Winarno.

Alamakjang.
Saya percaya mojang Bandung memang cantik-cantik. Tapi yang saya percayai adalah, hari genee, mestinya mereka berkumpul di pub atau diskotik untuk jeb-ajeb. Bukan di tukang bakso pinggir jalan macam begini!

Dan saya gak salah lihat. Mereka, datang bergerombol, bibir basah berkat lip gloss Body Shop, wangi-wangi berkat cipratan splash cologne Bath & Body Works, berkaki jenjang berkat high heels dan pake tank top anti angin (gimana gak anti angin, wong udara sedingin apapun mereka tetap nyaman dengan tank top. Berarti kan tank top terbukti mampu menahan dingin). Kayaknya mereka baru pulang les. Atau sehabis belanja lebaran. Atau sengaja mengganti tarawehan.

Prosesi makan bakso malah tak banyak berarti. Lewat begitu saja. Boro-boro kuahnya saya resapi dengan sempurna. Boro-boro sensasi asam pedasnya tertahan bulu kecil lidah. Toh saya memang tak berbakat jadi kritikus makanan. Jadi buat saya, bakso kali ini rasanya ya sama saja dengan bakso-bakso lain. Juga sama saja dengan makanan lain yang pernah saya santap. Jadi gak bisa diwakili dengan kata: "srrllp". Tapi dengan kata: "menggelonjor".

Maka saya nanya sama pacar saya. "De, kok bisa laku ya?"
Menurut dia, ada desas desus kalo Mang Ja'i bisa laku karena si tukang bakso, alias Mang Ja'i, gak pernah tersenyum. Loh?
Iya, katanya meyakinkan. Lihat saja. Mang Ja'i gak pernah senyum kan?

Saya yang malah senyam-senyum sendiri. Sepanjang perjalanan pulang dengan penuh senyum itu, pacar saya menambahkan cerita. Tuturnya, salah satu neneknya juga pernah pergi ke toko kain miliknya dengan hanya bergincu sebelah. Maksudnya, sebelah atas diwarnai merah, sebelah bawah tidak. Ketika ditanya kenapa, sang nenek menjawab ringkas: biar dagangan cepet laku!

6 comments:

ewink said...

Untung klien kita gak percaya gituan ya untuk jualan barangnya. Kalo mereka percaya hal-hal semacam itu, bisa bangkrut dunia periklanan... :p

rur said...

nikmati aja lah... daripada yang jualan bakso dari daging ngga umum...

tapi soal klenikan boleh diadu! coba tanya teman - teman yang kliennya masih menganut sakralisme animis... yang mengharuskan borong - borong stilomatic dan layout ke gunung kawi hehehe

aniwaiii selamat lebaran! mari kita saling memaafkan!

Ceritaku... Untukmu... said...

huehuehuehhhee... tapi memang harus berani nyentrik untuk mendapatkan perhatian, bukan? (^_^)

-uthe-

shawnflynn70558675 said...
This comment has been removed by a blog administrator.
edprehiem88122947 said...

Hey Meet Me Today I'm available in your area tonite GO HERE NOW!

8fjze98 said...

Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.