Monday, October 24, 2005

Puncak, 4 Desember 2005

...
Dingin membenarkan nafas mencari teman.
Dingin mengiyakan. Wajar, katanya.
Maka letakanlah telapak tanganmu pada bayangan itu.
Instalasi lilin halus yang diciptakan Tuhan
untuk mengelabui manusia akan keindahan.
Maka jadilah ia berhala.
Jadilah sosok indah ini dewa.
Jadilah kamu, wanita cantik di malam dingin, sesajian.
Mari kita naik ke atas peraduan. Dibawah bulan. Diantara dupa.

"Sini. Ku hangatkan telinga mu", bisiknya.
"Rebahlah wanita. Malam ini ku tak mau terburu-buru.
Biarkan setiap butir keringat mengering dulu. Tak lama lagi
kita lanjutkan."

Wanita menuang red wine. Ia mengambilnya dari gudang
anggur di bawah. Katanya, semua untuk kita.
Maka jangankan sebotol anggur, ladang Vinetto pun untuk kita.
Boleh kau remas, katanya. Demi merayakan malam yang dingin.

Masih panjang waktu menuju pagi.
Ku raih jam tangan di lantai untuk memastikan. Jam 10 malam.
Nah, masih sempat ku lelehkan hasrat.

Kali ini akan ku kendarai Harley Davidson melintasi ladang rumputnya.
Menciumi bau rumput basah.
Mengendap, sehingga samar ia mengaduh.
Berbisik. lalu kadang teriak.

"Bebih! Bangun", di ujung sini.
"Ayah! sudah jam 10, mau kerja gak?" di ujung situ.
"Zum! Kerja gak? Sakit gigi?" di sudut sini.
"Zak, nungging!" di sudut sana.


Huehehhahehe...amit-amit...

2 comments:

rur said...

dingin merasuk ke badan, mengguncang hati,
hingga rasanya semua menjadi halal.

lalu waktu kau membuka mata, apakah kabut menutupi pandanganmu?

atau angin dingin masih menantang tulangmu?

atau perut kenyangmu yang justru terasa hangat dan menyelamatkanmu?

rezqoi said...

arya abis bersetubuh...