Friday, September 23, 2005

Selamat Ulang Tahun, Papa

Pernahkah kamu merasa memiliki kekurangan di dalam hidup, yang justru kamu syukuri?
Saya pernah.

Papa saya adalah seorang superhero. Sosok patriot yang mengabdikan dirinya pada keluarga. Bendera-nya, lagu kebangsaan-nya, nasionalisme-nya adalah satu orang istri dan dua orang anak.

Jauh sebelum hari ini, Papa meninggalkan cita-citanya menjadi seniman demi kesadaran telah memiliki seorang anak. Maka ia pangkas rambutnya yang panjang, agar anaknya memiliki figur ayah. Ia tanggalkan jaket hijau lusuhnya, agar anaknya tak terterpa debu. Ia rapikan kuku-kukunya agar anaknya tak tergores. Ia hentikan kebiasaan teriak-teriak di kamar mandi dan mulai belajar mendongeng. Ia turunkan lukisan-lukisan kebanggaannya dari dinding, dan menggantikannya dengan gambar-gambar binatang dan alphabet.

Kekurangan dalam hidup saya adalah dia. Papa saya.

Karena Papa, saya menjadi orang yang mudah dibohongi. Karena Papa, saya menjadi orang yang terlalu mudah percaya. Karena Papa, saya tidak memiliki pengalaman berantem di sekolah. Karena Papa, saya tidak kuasa meludahi pengendara motor yang menyalip dari kiri atau membentak supir mikrolet yang berhenti mendadak. Karena Papa, saya gagap waktu mengurus KTP nembak. Karena Papa, saya kesulitan hidup di kota keras seperti Jakarta.

Hasilnya…ya begini ini….Ketika sementara orang menutup hidung dan menjauhi bangkai kambing, saya malah mengaggumi deretan gigi si kambing yang masih rapi.

Tapi sungguh. Saya tidak pernah menyesali keberadaan Papa.

Papa memang selalu mengajarkan untuk melihat segalanya dengan indah. Papa mengajarkan kepercayaan dengan memberi kepercayaan. Papa mengajarkan cinta dengan memberi cinta.

Sebelum tidur, Papa selalu bilang, “tidurlah. Sebab ketika kalian tidur, Papa akan meletakkan sesuatu pada genggaman kalian”. Dan kami bertanya, “apa itu, Pa?”

Papa menjawab, “Cinta. Titipan Tuhan buat kalian”.

Buat saya, dunia adalah taman bermain. Sebuah lapangan di tengah kompleks yang dipenuhi tanaman bunga dan dilengkapi ayunan. Dan menjalani hidup adalah seperti menaiki ayunan. Ketegangan terasa ketika ayunan berada pada titik tertinggi.

Resiko terbesar adalah jatuh dari ayunan. Tapi saya tidak pernah takut untuk terjatuh. Sebab saya yakin, Papa dan orang-orang yang mencintai saya akan selalu siap menangkap. Mereka tidak akan membiarkan saya berjalan pulang sendirian sambil menangis.

Resiko terbesar dalam hidup adalah mati. Tapi Papa dan orang-orang tercinta lainnya tidak akan pernah membiarkan saya sendirian pada saat saya jatuh atau menangis. Mereka juga tidak akan membiarkan saya sendirian mencari jalan pulang. Sebab, Papa telah memberi arah. Untuk pulang ke rumah-Nya. Rumah kita semua.

Selamat Ulang Tahun, Papa.