Thursday, May 11, 2006

Taman Lawang

Sini...

Udara meredam pencaran dingin berpendar sinar lampu sorot memantul tubuh merayapi helai-helai menutup kembali pori-pori telanjang tergagahi luka memekikkan sejumlah kata-kata mendesir kepala.
"Tuh, itu tuh yang namanya banci."
"Kok bisa?"
"Bisa."
"Kulitnya mulus gitu?"
"Kan sudah kubilang tadi. Karena sudah malam."
"Kalo siang tak mulus?
"Bisa jadi."
"Tak ada yang sudi memberi lima ribu dong kalo siang?"
"Belum tentu."
"Loh? Kan tak menarik. Alih-alih tertarik, malah mungkin orang takut."

Orang membayar untuk mentertawakan. Tertawa itu mahal.
Orang membayar untuk merasa mengusai. Untuk mengontrol.

"Itu juga mahal?"
"Ya."
"Lebih dari 5 ribu?"
"Ya."

"Berapa?"

Sebanyak uang yang kau investasikan untuk belajar dari playgroup sampe kuliah.
Sebanyak uang yang kau kumpulkan untuk naik haji.
Sebanyak uang yang kau sumbang ke panti asuhan.
Sebanyak uang yang kau pakai untuk membeli bedak dan mencukur rambut.
Sebanyak uang yang kau habiskan untuk makan menyambung hidup.

"Mahal sekali?"

Sebab percuma kau lulus sekolah, naik haji, menyumbang, dan memoles diri. Percuma kau makan agar tetap bernyawa. Jika hidupmu kau gunakan untuk sekedar merasa mampu mengontrol orang lain. Merasa mampu menertawakan orang lain. Merasa mampu mengadili orang lain. Sedang kau masih tak mampu memasung dirimu sendiri.

"Tapi kan, semua itu tak terasa seperti membuang uang secara langsung!"
"Bisa jadi langsung."
"Gimana?"
"Berapa biaya operasi ambeien?"
"Ah, kan gak harus begitu."

Udara meredam pencaran dingin berpendar sinar lampu sorot memantul di tubuh merayapi helai-helai menutup kembali pori-pori telanjang tergagahi luka memekikkan sejumlah kata-kata mendesir kepala.

"Memangnya dengan uang terkumpul semalam bisa untuk biaya menghilangkan kelamin?"
"Tidak."
"Lalu darimana mereka dapat uang?"
"Menggadaikan kelaminnya."
"Bisa?"
"Sangat."
"Siapa yang mau beli?"

Orang-orang seperti kau. Yang mementingkan kelamin.