Wednesday, February 07, 2007

Masak sih?


Beberapa pembaca blog ini menyangka saya seumuran bapak-bapak beranak 3, dan yang bungsu sudah kelas 2 SMA. Kata mereka, gaya tutur saya dalam menulis menggambarkan itu. Menggambarkan gelambir di leher. Menggambarkan seonggok kaca mata tebal di tulang hidung. Menggambarkan suasana Jogja dan bale-bale bambu dengan mesin tik di sebelah kopi tubruk.

Masak sih?

Kalo misalnya gw ganti “saya” pake “gue” kaya gini masih kedengeran tua juga yak?

Oke. Saya memang lahir di medio peralihan Ejaan Yang Di sempurnakan. Era pakem puisi berima tergeser tutur deskiptif Rendra. Masa Goenawan Muhammad memperkenalkan jurnalisme sastrawi untuk feature-featurenya. Zaman Remy Silado mulai nakal memasukkan kata-kata seperti “jancuk” di dalam puisi mbeling-nya. Maka buku-buku yang saya lahap ketika pertama kali bisa baca adalah karya sastra hasil kawin silang antara gaya tutur lama yang muter-muter dengan kegenitan pemakaian personifikasi.

Tapi sumpah! Saya gak setua Bre Redana, apalagi August Parengkuan. Saya juga masih jauh lebih muda dari Dewi Lestari, Djenar, apalagi Ayu Utami! Dan saya juga gak tinggal di Jogja dengan bale-bale bambu. Saya tinggal di kota Jakarta yang gak mengizinkan pake sarung tanpa daleman sambil minum kopi panas di pagi hari.

Saya justru mengaggumi kekocakan Aditya Mulya. Saya iri dengan lancarnya Fira Basuki bercerita. Saya terpesona dengan ekspresifnya para penulis blog muda menggambarkan emosi.

Jadi inti permasalahan sebenarnya adalah karena saya memang gak bisa nulis! Saya terlalu pemalas untuk membiasakan diri menulis pretelan-pretelan kejadian yang saya alami setiap hari. Usia SMA dan kuliah saya lewatkan tanpa mengasah kemampuan mengolah kata.

Waktu menulis, saya harus kembali mencari-cari kunci karatan sialan itu di laci mesin jahit, di antara sandal swallow, di vas bunga bergambar naga, di tumpukan kertas karbon, atau nanya tetangga siapa tahu perkututnya mengerami kunci itu. Sebuah kunci besar yang digunakan untuk membuka pintu museum kosakata di lorong bernama memori dalam otak saya, yang penuh sarang laba-laba.

Karena gak pernah di-upgrade, museum itu hanya dipenuhi buku-buku dengan kertas menguning. Dan saya pun menjadi tidak kompeten menulis dengan bahasa tutur anak muda sekarang.

Para penikmat sastra atau tulisan pernah mengatakan kalau penulis Indonesia malas melakukan riset. Jurnalis kita pun sering disorot karena lalai cross check data. Saya sebaliknya. Saya senang melakukan riset. Tapi malas menulis.

Saya biasanya melakukan riset dengan: menonton berita, membaca koran, membolak-balik halaman majalah di kamar mandi, liat-liat blog orang laen, nonton film sambil tidur-tiduran dan makan kacang, merhatiin orang bicara, ngobrol, dan nunggu wangsit di waktu tidur.

2 comments:

muzakir said...

katanya, orang jadi berubah saat menulis kata-kata. gak heran lu disangka tuwir di blog ini.

tapi temen gue pernah bilang, good writing comes from attitude.

mana yang lebih shahih nih?

btw, kalo liat tulisan iklan-iklan elu, kok lu sering keliatan tersiksa? hahahahaha. kenapa ci bo?

yodee said...

eng... emang sebenernya umur lo brp? 12 ya?