Wednesday, February 07, 2007

Menanti Surga di Beranda

Sebuah review film Long Road to Heaven.

Bayangkan duduk di beranda rumah pada suatu sore yang adem. Bayangkan ngobrol bersama 2 orang teman lama yang dulu sempet akrab. Bayangkan juga gelas-gelas besar bertelinga kokoh dan tatakan alumunium memenuhi meja bundar kecil. Dan teh hitam tubruk di dalamnya.

Long Road to Heaven adalah suasana. Dan menonton film Long Road to Heaven adalah seperti menikmati teh hitam plus ampasnya di dalam gelas besar bersama dua orang teman lama dalam suatu perbincangan serba kikuk di suatu sore abu-abu.

Mari menggali reruntuhan bom, kata Wong Wai Leng dan Andy Logam Tan - sang penulis skenario. Mari mengkaji manusiawi-tas para teroris, kata Enison Sinaro – sang sutradara. Mari mengintip lebih dekat untuk menumbuhkan empati, sekaligus memandang dari jauh untuk membangun sikap bijak, kata Nia Dinata-sang produser.

Tapi menonton film hasil kerjasama Kalyana Shira Films dan TeleProductions International ini memang membutuhkan ketekunan yang sama dengan menyeruput teh hitam tubruk. Penikmatnya harus kuat-kuat menggenggam kuping gelasnya agar tak tumpah. Harus pelan-pelan menempelkan bibir agar tak melepuh oleh panasnya. Harus pandai mencelupkan lidah untuk memisahkan ampas pucuk daun teh, menepikannya sedikit, lalu menahannya di ujung gigi, agar air teh tersaring sempurna mengguyur mulut.

Sebab, pesan yang ingin disampaikan film - yang terinspirasi tragedi bom Bali 1 - ini terlalu banyak. Sebuah idealisme besar untuk mewakili banyak kepentingan dalam banyak sudut pandang.

* * *

Seperti bertemu teman lama. Semua ingin diceritakan. Tapi tak pernah bisa. Teman kantormu sekarang bukan teman kantorku. Aku tak mengenal atasanmu yang botak itu. Kau pun tak tahu kepada siapa aku meminjam kemeja untuk malam mingguan. Maka aku tak bisa menceritakan betapa tololnya penampilanku waktu itu. Dan maaf, kau pun tak bisa menularkan kelucuan yang sama ketika rambut palsu bos-mu itu tersangkut palang pintu.

Keberpihakan juga menjadi tabu di film ini. Saking haram-nya, ceritanya jadi menggelosor begitu saja. Tanpa karakterisasi. Tanpa terasa naik turun dengus nafas di setiap obrolannya.

Amrozi adalah pelaku pengeboman yang lugu dan ndeso. Ya, kita semua sudah tahu itu.

Hambali, adalah bapak tua berjanggut yang secara sporadis dan tanpa latar pemikiran ingin membom. Pokoknya nge-bom. Ya, kita juga sudah tahu itu.

Wayan, si supir taksi warga Bali dengan aksen khas Doea Tanda Mata, memiliki cerita “khusus” tentang peristiwa pengeboman. Yakni: adiknya adalah salah satu korban. Kaget? Tidak. Coba tanya teman-teman mu yang orang Bali. Adakah diantara mereka yang memiliki kerabat atau teman yang terkena imbas pengeboman? Banyak. Ya, kita tahu itu.

Liz Thompson, diperankan Raelee Hill, adalah wartawan Australia yang datang ke Bali untuk meliput persidangan kasus Bom Bali 1. Tadinya skeptis, bertemu Wayan, menyaksikan diam-diam ekspresi Wayan tentang tragedi, mendengar cerita Wayan tentang adiknya, lalu tiba-tiba jadi tak banyak bicara. Tak ada pergulatan psikologis terjadi. Kalau cuma diam karena takut membuat Wayan tersinggung, ah...kita juga selalu melakukan itu. Ya, kita tahu itu.

Mirah Foulkes sebagai Hannah Catrelle. Melihat darah dan tubuh hangus membuatnya marah. Ya, tentu saja. Bertemu dengan seorang pria tua dengan identitas agama yang sama dengan teroris, lalu Hannah marah-marah. Ya, tentu saja. Lantas pak tua, Haji Ismail, menceritakan betapa agamanya tak mengajarkan pembunuhan. Betapa surga tak bisa dicapai dengan cara singkat dan bodoh. Betapa kau, wahai Hannah, adalah juga bagian kecil dari semesta yang berebut ingin mengecap surga. Dan ya, kita semua juga sudah tahu itu.

Tentu saja kita pun sudah tahu rasanya teh. Tapi kenapa kita selalu menikmati teh? Mengapa begitu tergila-gilanya para ahli dengan bermacam jenis dan sejarah teh? Mengapa menghirup wangi air teh di saat high afternoon tea diakui sebagai salah satu ejakulasi peradaban?

Karena kita tidak menegaknya begitu saja. Seduhan teh yang sama hari ini akan terasa beda esok sore. Teh Jepang tak memiliki sensasi sama dengan teh Cina. Teh celup tak serupa dengan teh tubruk. Teh Sosro tak sama dengan dengan teh Walini.

Memang, ada banyak adegan yang berhasil menyisipkan dialog-dialog dan daya cerita kuat. Hadirnya konflik di rapat teroris memperkaya cerita. Perbincangan mengenai alasan Mukhlas memilih Bali (yang ternyata karena kaos oblong) lumayan menyegarkan. Ungkapan “I’m my own god” oleh Thompson ketika ditanya tentang agama, juga begitu menyapa. Pernyataan Haji Ismail saat dikomentari Hannah tentang bajunya yang penuh darah ketika akan sholat, dan dijawab: “kali ini Allah pasti mengerti” pun menyejukkan hati.

* * *

Nikmati loncatan-loncatan alur di dalam film ini seperti menikmati ampas teh.
Kau tak telan, tapi tetap kau nikmati sensasinya.

Lalu berhati-hatilah meresapi airnya.
Karena jika tidak, dialog-dialog yang terkesan sepele padahal bermakna dalam, akan terlewati.

Sesekali, tuangkan sedikit teh yang panas ke tatakan alumunium agar cepat menjadi dingin.
Lakukan ini agar udara sekitarmu memperkaya penilaian pada film ini.

Dan terakhir, peluklah teman-teman lamamu di sore itu, karena meski tak lagi se-gembira dulu, mereka tetap bagian dari hidupmu.
Rasakan kehangatan dan kedekatan film ini di hatimu, karena meski tak sehebat film barat yang biasa kau tonton, Long Road to Heaven adalah bagian dari bangsamu.

Pegangan Cinta di Sepeda Motor

Banyak orang bilang, saya punya masalah besar.

“Kalo sama tukang ojek gak papa deh, masih bisa dimengerti. Tapi masak dibonceng (membonceng kali yaa harusnya - red) adek sendiri aja begitu!”. Kira-kira demikian hardikan mereka.

Pernah liat besi melingkar di jok belakang, di atas bodi lampu belakang sepeda motor? Nah di situlah saya biasa meletakkan kedua telapak tangan saya. Mereka bilang itu berbahaya. Kalo motor tiba-tiba tancap gas, penumpang belakang ngejengkang, tangan pun bisa terkilir, tubuh terpontang-panting.

“Terus pegangan ke mana dong?”
“Ya gak usah pegangan!”
“Ntar jatoh. Itu malah lebih bahaya.”
“Kecil kemungkinan jatoh. Kecuali kamu gak sigap.”
“Gak sigap?”
“Iya. Misalnya karena ngelamun atau tidur!”

* * *

Nah. Itu dia. Ngelamun adalah anugerah. Hobi. Pelarian. Ekstasi. Dan sumber pendapatan bagi saya.

Anugerah.
Tuhan tentu tak semena-mena menciptakan saya tanpa memberi kelebihan. Karena Tuhan tak menganugerahkan saya wajah ganteng, badan besar, otot atletis, otak pemecah rumus-rumus, kemampuan supranatural…maka saya tak akan menjadi seorang model, bintang film porno, pemain bola, atlet olimpiade matematika atau dukun. Kelebihan yang diberikan Tuhan buat saya adalah melamun.

Hobi.
Datanglah sesekali ke rumah pada waktu saya senggang. Pasti lagi melamun. Atau di kamar mandi lama-lama, padahal melamun. Atau menatap cermin lama-lama, padahal melamun. Atau menonton film drama pemenang oscar yang 3 jam, padahal melamun.

Pelarian dan ekstasi.
Pulang lembur, lagi laper banget, kerjaan buat besok banyak, kartu kredit belum dibayar, berantem sama pacar, macet. Gampang saya mah. Tinggal duduk manis di taksi deket jendela. Ngeliatin orang-orang dan kehidupannya.

Ah, seandainya saya punya rumah di daerah itu, keluar jam segini pake mobil dengan perangkat audio video persis kayak yang itu, terus dilirik dan dicemburui sama orang-orang yang lagi berdiri di bis itu, kalo ada yang gangguin langsung dilindungin sama mas-mas bertato yang nongkrong di situ, pulang ke rumah bawa mbak-mbak di mobil yang sebelah situ.

Juga sumber pendapatan.
Hmm...lagi ngelamunin si teteh, inget kalo kemaren janjian ngejemput dia ke rumah sodaranya. Hape kebetulan mati. Ngebel rumahnya gak ada yang nongol. Celingak-celinguk nyari wartel gak nemu. Ha, ada orang lewat! Saya mengedarkan pandang ke mereka sembari tersenyum. Dan mereka mengedarkan pandang ke seluruh bagian tubuh saya sembari curiga campur heran. Blangsak! Jadi males nanya.

“Hoi! Gimana? 4 tahu, 5 pisang goreng, 1 tempe, 3 cabe rawit, 2 teh botol, 5 batang A Mild, udah lu abisin! Udah dapet ide blom?
“Eh yang mana nih?”
“TVC MURI jaleeeh. Lu bukannya udah baca brief?”
“Oh gini aja. Ada seseorang pengamen. Genjrang-genjreng di depan pagar tinggi sebuah rumah. Tapi si pemilik rumah gak keluar-keluar. Si pengamen gak nyerah, dia terus nyanyi-nyanyi, kadang-kadang dikerasin tiba-tiba, kadang-kadang sambil joget. Terus gak berhenti-henti. Karena si pemilik gak keluar juga, dia mulai kesel. Ditendangnya pintu pagar. Eh, kakinya nyelip di sela-sela pager. Jadilah dia mulai sibuk berusaha ngelepasin kakinya. Beberapa orang dateng. Karena takut disangka maling, dia pura-pura nyanyi lagi. setelah kakinya berhasil lepas, dengan kesalnya memukul pagar pake stang gitar. Eh, nyelip lagi. Terus-terusan aja begitu sampe goblok. Siang berganti malam. Malam berganti pagi. Ngamennya jadi lamaaaa banget. Gimana bos?”
“Udah gitu doang?”
“Udah. Ditutup pake logo Museum Rekor Indonesia. Di bawahnya ditulis: UNTUK SEGALA SESUATU YANG BERLEBIHAN.”

Ya. Melamun ternyata menghasilkan gaji.

* * *

Dan melamun juga nikmat dilakukan di atas motor melaju. Dan saya bukan orang bodoh yang mau tiba-tiba terjungkal karena gerakan motor. Dan meletakkan tangan di pegangan besi tadi adalah solusi agar tidak nyungsep saat sedang asik melamun.

Gak ada alasan lagi kan buat marah sodara-sodara? Sekarang mari menenangkan hati.

“Jadi gak nih kita ke rumah kopi?”
“Mesti pake motor ya?”
“Enakan pake motor. Jalannya jelek dan curam”
“Oke.”

Ehm.

“Bentar. Gue nyalain rokok dulu.”

Sedikit hentakan. Suara motor menderu. Saya duduk dibonceng. Tangan sebelah kanan memegang rokok. Tangan sebelah kiri mengenggam mesra batang besi melingkar di belakang jok.


Bandung, akhir 2006.

Masak sih?


Beberapa pembaca blog ini menyangka saya seumuran bapak-bapak beranak 3, dan yang bungsu sudah kelas 2 SMA. Kata mereka, gaya tutur saya dalam menulis menggambarkan itu. Menggambarkan gelambir di leher. Menggambarkan seonggok kaca mata tebal di tulang hidung. Menggambarkan suasana Jogja dan bale-bale bambu dengan mesin tik di sebelah kopi tubruk.

Masak sih?

Kalo misalnya gw ganti “saya” pake “gue” kaya gini masih kedengeran tua juga yak?

Oke. Saya memang lahir di medio peralihan Ejaan Yang Di sempurnakan. Era pakem puisi berima tergeser tutur deskiptif Rendra. Masa Goenawan Muhammad memperkenalkan jurnalisme sastrawi untuk feature-featurenya. Zaman Remy Silado mulai nakal memasukkan kata-kata seperti “jancuk” di dalam puisi mbeling-nya. Maka buku-buku yang saya lahap ketika pertama kali bisa baca adalah karya sastra hasil kawin silang antara gaya tutur lama yang muter-muter dengan kegenitan pemakaian personifikasi.

Tapi sumpah! Saya gak setua Bre Redana, apalagi August Parengkuan. Saya juga masih jauh lebih muda dari Dewi Lestari, Djenar, apalagi Ayu Utami! Dan saya juga gak tinggal di Jogja dengan bale-bale bambu. Saya tinggal di kota Jakarta yang gak mengizinkan pake sarung tanpa daleman sambil minum kopi panas di pagi hari.

Saya justru mengaggumi kekocakan Aditya Mulya. Saya iri dengan lancarnya Fira Basuki bercerita. Saya terpesona dengan ekspresifnya para penulis blog muda menggambarkan emosi.

Jadi inti permasalahan sebenarnya adalah karena saya memang gak bisa nulis! Saya terlalu pemalas untuk membiasakan diri menulis pretelan-pretelan kejadian yang saya alami setiap hari. Usia SMA dan kuliah saya lewatkan tanpa mengasah kemampuan mengolah kata.

Waktu menulis, saya harus kembali mencari-cari kunci karatan sialan itu di laci mesin jahit, di antara sandal swallow, di vas bunga bergambar naga, di tumpukan kertas karbon, atau nanya tetangga siapa tahu perkututnya mengerami kunci itu. Sebuah kunci besar yang digunakan untuk membuka pintu museum kosakata di lorong bernama memori dalam otak saya, yang penuh sarang laba-laba.

Karena gak pernah di-upgrade, museum itu hanya dipenuhi buku-buku dengan kertas menguning. Dan saya pun menjadi tidak kompeten menulis dengan bahasa tutur anak muda sekarang.

Para penikmat sastra atau tulisan pernah mengatakan kalau penulis Indonesia malas melakukan riset. Jurnalis kita pun sering disorot karena lalai cross check data. Saya sebaliknya. Saya senang melakukan riset. Tapi malas menulis.

Saya biasanya melakukan riset dengan: menonton berita, membaca koran, membolak-balik halaman majalah di kamar mandi, liat-liat blog orang laen, nonton film sambil tidur-tiduran dan makan kacang, merhatiin orang bicara, ngobrol, dan nunggu wangsit di waktu tidur.

Thursday, February 01, 2007

10 Sutradara Indonesia bikin film bom Bali!

Daripada pusing mikirin konspirasi di balik teror, mendingan mengkhayal seandainya 10 sutradara terkenal di Indonesia membuat film tentang Bom Bali...

Garin Nugroho
Judulnya pasti puitis: Bom Tak Terkuburkan, Bom dalam Sepotong Roti,
Bom di Atas Bantal, Surat untuk Amrozy dan Aku ingin Mengebommu Sekali Saja.
Akan banyak sekali permainan simbol-simbol di film yang tenang dengan
plot lambat. Kalau perlu ledakan bom dibuat slow motion dan
disimbolkan dengan orang buang angin (maaf).

Rudi Soedjarwo
Judul filmnya pasti: Bom Jatuh, Tentang Bom, 9 Teroris, Ada Apa dengan
Bom? Mengejar Amrozy.
Titi Kamal akan main sebagai bartender di Sari Club, Dian Sastro
sebagai perawat rumah sakit yang lugu dan Marcella Zailanty akan
banyak menangis karena kekasihnya jadi korban pengeboman. Soundtrack film ini akan diisi oleh Melly Goeslaw dengan lagu: Menghitung Bom dan Glenn Fredly dengan: Sekali Bom Saja.

Joko Anwar
Judulnya: Janji Amrozy. Dead Bomb Time.
Joko tak akan membiarkan filmnya terasa seperti dokumenter. Ia akan
mengisi "Janji Amrozy" dengan adegan-adegan komedi satir seperti
film-film festival Prancis.

Nia Dinata
Judulnya: Berbagi Bom, Arisan Al Qaeda
Nia akan menggambarkan para istri-istri Hambali. Juga akan banyak
bermain klimaks tentang tahanan homo yang jatuh cinta pada Amrozy.

Rizal Mantovani
Judul: Bom; Datang Tak Diundang - Pulang Tak diantar, Bomtilanak.
Mungkin Siti Nurhaliza akan main di film ini. Penuh dengan low angle
shot dan kamera yang terus bergerak. Akan banyak gambar dengan kontras warna merah dan biru serta background penuh dengan lampu-lampu sorot.

Riri Riza
Judul: Petualangan Amrozy; atau Amrozy,Amrozy; atau Amrozy, Catatan
Harian Seorang Teroris.
Film akan bertutur semi dokumenter. Setting film dipenuhi detail dan set yang
menawan. Film akan banyak diisi dialog dalam banyak bahasa: Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Arab dan beberapa bahasa manca negara. Tidak banyak klimaks di filmnya dan lebih banyak percakapan.

Dimas Djay
Judul: Tusuk Jelabom
Asap dramatis akan banyak terlihat di sepanjang film sebagai
background. Begitu pun siluet-siluet. Kemungkinan besar para teroris
akan digambarkan lebih modern, dengan baju hitam-hitam, sepatu
DocMart, senter besar dan ponsel yang digunakan untuk memicu bom pun
seri Ericsson terbaru.
Saat pengeboman, mungkin akan muncul peri-peri
romawi dengan sayap.

Hanung Bramantyo
Judul: Brownies Kukus a.k.a C4, Teroris Jomblo, Lentera Bom.
Akan banyak remaja-remaja cantik dan ganteng yang dikesankan cerdas.
Mungkin VJ Rianti akan bermain sebagai wartawan cantik yang kritis dan
sedang membuat berita tentang Amrozy. Di film ini, Rianti akan
ditemati teman-temannya yang ngocol dan konyol, diperankan Denis
Adiswara dan Ringgo.

Teddy Soeriaatmaja
Judul: Bom Biru.
Film dipenuhi adegan-adegan khayalan, bahkan jauh dari fakta bom bali
itu sendiri. Bisa jadi Teddy juga memaksakan orang-orang lama di-make
up total untuk dapat berperan di filmnya ini. Misalnya Didi Petet sebagai Hambali, serta Butet Kertarajasa disuruh menguruskan badan dan
mempelajari dialek Dr. Azahari.

Nayato Fio Nuala
Judul: Bombal – sebuah bom di Bali.
Fio akan menceritakan perjalanan para aktor pengeboman ketika mereka
masih remaja. Adegan-adegan dipenuhi adegan konyol dan ide-ide bombastis yang tak mereka sadari akan benar-benar merubah hidup mereka kelak. Tentu saja tak lupa, ada sedikit ilustrasi musik hasil jiplak.

Nah, kalau Anda yang jadi sutradara-nya, mau dibikin kayak gimana?