Friday, July 20, 2007

Ini Kandang Kita ! Kan?


Ini kali kedua saya nonton bola di stadion. Yang pertama waktu saya masih amat kecil, cuma berdua sama Papa saya. Itu pun cuma di stadion kecil di kota Serang. Klub yang bermain juga bukan kesebelasan terkenal. Tapi sepertinya Papa saya yakin, kedekatan seorang anak laki-laki dengan bapaknya bisa dinilai dari pernah tidaknya mereka main atau nonton bola bareng. Kayak di film-film.

* * *

Sebetulnya lebih enak nonton di TV. Duduk manis sambil minum es teh, lalu melempar-lemparkan kacang ke layar TV kalo kesal. Lapangan pun lebih terlihat luas, pemain lebih kelihatan jelas dan ada playback.

"Endonesah! Duk duk duk duk duk!"

Suara saya hilang ditimpa ribuan suara lain. Lenyap ditelan Gelora Bung Karno. Kuping saya bahkan gak bisa mendengar suara sendiri. Tapi kok saya tetep teriak-teriak. Serta tetep yakin kalo suara cempreng itu akan terdengar Bambang Pamungkas cs sebagai suara malaikat untuk menyulut semangat mereka berjuang di pertandingan prestisius ini. Indonesia versus Korea Selatan.

Sebab rugi rasanya beli tiket seharga 200 ribu itu, bela-belain pake kaos putih, desak-desakkan untuk bisa masuk, kalo sampe sini gak teriak-teriak. Masak cuma duduk terpekur ngeliatin rumput senayan yang surprisingly begitu hijau.

"Tarik aja kaosnya, tariiiik!"
"Sikat! Sikat! Patahin kakinya!"
"Aaaah...wasit guoblok!"

Huehhehe. Kapan lagi bisa dapat legalisasi untuk memaki? Kapan lagi bisa se-katarsis itu?

Dan saya rasa gak cuma saya. Puluhan ribu orang Indonesia datang ke sana untuk bersumpah serapah. Untuk dapat kesempatan menghina negara bos-nya di kantor. Untuk menghindari nonton di pesawat televisi bermerek Korea. Untuk mengata-ngatai hidup yang menurut mereka jelas tidak benar.

Lebih dari itu, saya datang ke sana untuk mengembalikan kecintaan pada negeri ini. Untuk kembali mengingat bahwa ada sebuah negara bernama Indonesia. Untuk kembali merinding setiap kali nama Indonesia dipekikkan. Untuk kembali merasa memiliki kawan berjuang. Dan tentu, untuk kembali mengingat lirik Indonesia Raya.

Negara ini memang butuh musuh bersama supaya tetap bisa kompak.

Kenangan bersama Papa selalu membuat saya menitikkan air mata. Bahwa nonton bola waktu itu gak bisa saya nikmati karena masih kecil, tidak jadi masalah. Malah, semakin meniupkan kenangan akan cinta Papa yang amat sangat.

Pun, menonton Indonesia berlaga melawan kesebelasan negeri lain harusnya membuat saya terharu. Bahwa akhirnya kita kalah dan gak masuk babak selanjutnya adalah bukan masalah. Sebab saya cuma perlu merasa kembali yakin, bahwa negeri ini masih dicintai rakyatnya.

Saya memang cengeng.

(Photo: Courtessy Reza the Rezqoi)