Tuesday, November 25, 2008

Malaikat

Saya bukannya gak percaya malaikat. Cuma memang sering lupa.
Dan kali ini Tuhan mempertemukan saya sama malaikat.


Kalil Kalbi Aryashabaz Gu
9 November 2008

Monday, November 24, 2008

Tempat Penitipan

Sudah setahun lebih sejak Papa wafat. Sudah selama itu pula saya ingin menuliskan sesuatu di blog ini tentang itu, tapi selalu gagal.

Maka beberapa waktu kemarin, saya menyempatkan diri sholat untuk lalu meminta Tuhan memberikan akses SLJJ untuk bicara sama Papa. Saya bilang dalam sholat saya, kalo saya perlu ngobrol sama my old man untuk mendapat inspirasi tulisan. Saya juga bilang, karena sekarang tanggal tua, kalo bisa collect call saja.

Setelah tersambung dan sejenak kangen-kangenan, saya akhirnya membuka obrolan lumayan serius.

Saya: Pa, tolong ceritakan gimana rasanya punya anak kayak saya?

Papa: Gimana ya? Papa cuma tahu kalo anak adalah titipan. Maka, saat mendapat kamu, langkah pertama yang Papa lakukan adalah pergi ke mesjid untuk mencari tempat penitipan sandal. Tapi kamu kayaknya gak nyaman tidur di kotak kayu bernomor. Lalu Papa pergi mencari brankas. Tapi kamu kedinginan di dalamnya. Akhirnya sambil berpikir mencari tempat penitipan lain, Papa kamu dekap saja. Eh, kamu malah tertidur dengan nyaman.

Saya: Terus?

Papa: Sejak itu Papa sadar, detak konstan jantung Papa-lah yang menjanjikan ritme kepastian. Aliran darah Papa menyanyikan nina bobo. Dan bau keringat Papa adalah terapi kehangatan yang bercerita tentang sinar matahari menembus jendela, agar kau selalu terbangun dengan harapan baru.
Saya: Lalu kenapa Papa meninggalkan saya? Bukankah saya tidak bisa hidup tanpa dekapan Papa?

Papa: Karena kamu sudah mengerti akan Tuhan. Akan sumber kepastian hidup, muara dari segala senandung cinta, serta awal dari setiap langkah. Dan itu cukup menjadi bekal. Tugas Papa selesai.

Tuhan,

Papa mungkin tak banyak membuka kitab, tapi ia selalu membaca ayat-Mu dengan kesungguhannya memberikan interpretasi akan dunia untukku.

Papa mungkin tak banyak menyebut nama-Mu, tapi ia melafalkan asma-Mu melalui aliran cinta tiada henti.

Papa menggambarkan surga lewat matanya. Papa berkisah tentang nabi lewat kewibawaannya. Papa bertafakur dan mengajarkan syukur lewat kerja kerasnya menghidupi kami.

Tidakkah itu semua cukup sebagai tiket masuk surga?