Friday, December 17, 2010

Arsitek Cinta


Kalil Kalbi, anak kami, lagi lucu-lucunya. Umurnya 2 tahun, pecicilan, semua dipegang terus dikomentarin, dan pipinya enak dicubit. Jadi kalo saya dan bubu-nya (panggilan Kalil buat Ibunya) lagi capek ngurusin dia, kami bawa dia ke tempat sodara atau temen.


Tujuannya? Ini:

“Eeeh Kalil udah besar…lucu banget siiih…sini..sini maen sama Tante!”


Nah, itu artinya kami punya kesempatan sekitar satu jam untuk berleyeh-leyeh meluruskan kaki sambil ngobrol tenang. Istirahat sejenak mengalihkan konsentrasi dari Kalil.


Memang cuma satu jam, karena biasanya sang handai taulan itu kemudian mengembalikan Kalil kepada kami dengan tsunami keringat plus wajah panik seperti habis lomba lari bareng cheetah. Karena kecapekan, atau karena koleksi pajangan kristalnya sudah patah satu.


Bukannya kami tidak bersyukur dan berusaha menghindar. Kalil adalah anugerah paling dahsyat yang membuat kami sering tidak percaya Tuhan memercayakan anak sehebat itu pada kami. Tapi ibarat dapat hadiah undian mobil mahal – yang sering membuat orang terjaga dari tidur dan sebentar-sebentar mengecek garasi – Kalil amat menguras tenaga.


Minggu kemarin, saya ajak dia ke kantor. Dan seperti biasa, diajak main sama temen-temen kantor yang perempuan (kenapa cuma perempuan? Laki-laki kalo ketemu anak kecil persis kayak ketemu cewek cantik. Bingung memulai pembicaraan). Besoknya, Kalil masih jadi topik sapaan pembuka.


“Mas, anaknya lucu ya. Mirip siapa sih?”

“Anak lo kok lincah banget, gak kayak elo yang pendiem?”

“Pagi Mas. Ngomong-ngomong, seneng banget ya punya anak pertama cowok. Bisa diajak maen sama bapaknya.”


Biasanya saya menjawab dengan cengar-cengir (kenapa cengar-cengir? Laki-laki kalo ditanya begituan sama seperti ditanya tentang kapan memenuhi janji menikah. Bingung harus jawab apa. Hehe.).

Sampai hari ini, masih ada pembicaraan tentang Kalil. Tapi yang ini sebuah pertanyaan (atau pernyataan ya?) yang membuat saya berpikir lebih panjang sebelum menjawab.


“Gue pengen punya anak. Pengen banget. Tapi kok rasanya sangat egois kalo gue punya anak cuma karena kepengen. Lo kenapa dulu memutuskan punya anak?”


Sial. Pertanyaan itu membuat saya berpikir keras untuk menemukan jawabannya - atau justifikasi karenanya. Jangan-jangan, saya dan istri memutuskan untuk memiliki anak karena kita memang egois.


Hanya untuk memenuhi keinginan kita pribadi: supaya hidup gak membosankan, gak lagi dicerewetin mertua, ada tubuh mungil buat digemesin, menyalurkan hasrat belanja baju-baju anak yang lucu, jadi bisa nebeng beli koleksi mobil-mobilan dengan alasan buat anak nanti kalo sudah besar, menjadi sosok untuk dikangenin saat pulang ke rumah, sebagai alasan agar pasangan tidak jadi lembur di kantor, pembuktian kesuburan, agar ada bahan obrolan waktu arisan, bahkan untuk dijadikan korban pelampiasan saat sedang kesal sama pasangan dan tumbal untuk menitipkan mimpi-mimpi kita tentang hidup dan masa depan. Ada juga yang memutuskan memiliki anak untuk merekatkan hubungan yang renggang. Para orang tua ternyata EGOIS.


Malamnya, di rumah, saya akhirnya menemukan sedikit pencerahan untuk menjawab pertanyaan sialan itu.


Begini,

mungkin kita memang melakukan kesalahan dengan memutuskan memiliki anak karena alasan-alasan egois tadi. Tapi tugas manusia di dunia ini memang membuat kesalahan. Asaaal, setelah itu kita belajar. Belajar untuk memperbaiki kesalahan. Jadi buatlah kesalahan banyak-banyak, lalu belajarlah lebih banyak lagi (ada juga sih manusia-manusia yang lebih pintar: belajar dari kesalahan orang lain).


Dan ketika kita, orang tua, sudah melakukan kesalahan dengan memiliki anak, secara sadar atau tak sadar, kita menjadi “terpaksa” belajar.


Prosesnya?

Sang anak lahir. Lucu, menggemaskan, pengennya ngeliatiiiin mulu. Timbulah rasa memiliki. Sang anak mau dibawa ke mall, maka harus didandani sekeren mungkin biar gak malu-maluin. Si anak harus bisa dibanggakan karena kepintarannya, maka disekolahkannya di sekolah bagus. Maka kita berinvestasi besar-besaran.


Setelah itu, siapa yang rela kalo anak yang dulu dibelai-belai lembut ini dipukulin orang di jalan? Siapa yang rela kalo anak yang dibiayai mati-matian untuk sekolah ini jadi suram masa depannya? Kita jadi teramat peduli dengan apa pun yang terjadi padanya. Timbullah CINTA. Tanpa sengaja. Tanpa disadari kita jadi mahluk yang sama tapi dengan kadar cinta yang menjadi luar biasa.


Jadi inilah alasan sesungguhnya kita memiliki anak: untuk memuliakan hidup dengan menebar cinta. Dalam ketiba-tibaan kita berubah menjadi mahluk yang tak lagi egois. Dalam ketidaksadaran kita menjadi mahluk yang sangat peduli pada orang lain. Betapa mulianya kita, para orang tua.


Dan malam ini, saya juga tiba-tiba sadar kenapa dulu kami kok bisa menamakan anak kami KALIL KALBI, yang artinya: Kekasih Hati. Sebab karenanya-lah, kami jadi punya profesi dalam hidup: Love Architect.


Jakarta, 17 Desember 2010

No comments: