Wednesday, October 24, 2012

#1 Tak Jadi Artis, Jadi Orang Iklan Bolehlah...

Kalau sedang mengunjungi kerabat yang jarang bertemu, saya sering ditanya, “kuliah di mana?”. Ini tentu terjadi waktu saya masih jadi mahasiswa.

Lalu saya jawab, “Fikom.”

Lalu ditanya lagi, “apa tuh?”

Lalu saya jawab lagi, “Fakultas Ilmu Komunikasi.”

Lalu sejenak diam.

Lalu akhirnya direspon juga, “oooh.”

“Berarti nanti kalo sudah lulus, kerjanya di TELKOM ya?”, tanya Bude saya lagi.

Pakde saya yang menyahut, “bukan telekomunikasi Bu, tapi komunikasi!

Ah, Pakde ternyata pintar!

Dan pakde meneruskan lagi dengan yakin…

“Nantinya yaa jadi wartawan!”,

Lebih sebal lagi kalau kita mau iseng mendengar pikiran mereka. Karena pertanyaan sesungguhnya di benak mereka adalah, “Orang berkomunikasi saja kok harus kuliah. Orang tinggal ngomong doang.”

Tapi itu dulu. Zaman FIKOM masih sering dilafal sebagai FITKOM. Atau PIKOM di daerah tertentu. Zaman orang-orang tua masih berpikir kalau kuliah itu ya kalo tidak jadi dokter, berarti jadi insinyur. Atau setidaknya jadi sarjana hukum supaya bisa naik eselon pegawai negeri.

Sekarang beda lagi.

Dulu, teman seangkatan saya di FIKOM tidak lebih 50 orang. Sekarang, anak-anak SMA berbondong-bondong mendaftarkan diri di Fikom. Mereka biasanya janjian berkumpul di rumah salah seorang, naik satu mobil bersama-sama, mengambil formulir berderet-deret, lalu pulangnya mampir ke mall dan coffee shop untuk dapat WIFI gratis, lalu tanpa sengaja bertemu lagi teman-teman sekelasnya, yang ternyata juga, “Ngambil apa lo? Gue Fikom. Apa? Lo juga? Fikom? Hahaha.”

Atau Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tapi Program Studi Komunikasi. Atau Fakultas Ekonomi tapi jurusan Komunikasi Pemasaran. Atau Fakultas Seni Rupa tapi jurusan Komunikasi Visual. Atau Institut Pertanian, tapi jurusan Komunikasi Lingkungan.
Setelah lulus, sebagian besar dari mereka diserap kerja oleh kantor media massa, menjadi PR di perusahaan-perusahaan, atau bekerja di perusahaan iklan. Dan sebagian lumayan lagi, menjadi selebritas.

Loh? Seleb? Iya.

Mereka, menjadi reporter televisi yang terjun ke lapangan, mulai dekat dengan para narasumber, berwajah sedap dipandang dan bersuara merdu, lalu mulai dipekerjakan menjadi news anchor, muncul setiap saat, dan menjadi terkenal.

Mereka, menjadi tim produksi di stasiun TV, lalu ternyata punya bakat lebih “tampil” daripada artis yang diundang: bernyanyi lebih serius sewaktu sound check, atau melawak sesering mungkin sewaktu brainstorm, lalu produsernya merasa mendapat berlian dengan harga ekonomis yang tinggal digosok, lalu dipilihlah ia ikut mengisi acara dan jadilah terkenal.

Mereka, menjadi penyiar radio, sering didatangi musisi yang sedang promo album, sering dapat kerja sampingan sebagai MC, lalu mulai diajak jadi presenter program TV, lalu jadi terkenal.

Mereka, menjadi PR di tempat clubbing, nemenin para seleb mabok, trus sering hang out bareng, lalu ikut terkenal.

Juga para orang-orang iklan.

Mereka, bekerja di agensi iklan, lalu saat butuh talent mulai malu-malu menawarkan diri, atau setidaknya menemani sang talent yang artis selama syuting, lalu jadi dekat, lalu terkenal juga.

Jadi cita-cita mereka sebenarnya adalah jadi seleb.

Setidaknya bisa datang kerja dengan dandanan seperti seleb.

(Bersambung. Ini tulisan pertama dari rencana beberapa tulisan yang gak tau bakalan jadi berapa seri.)

This article also posted on channel #catatan_mlipir @Mindtalk.com

No comments: