Friday, March 30, 2012

Tunda Dulu Korupsi!

(Ditulis setelah terjebak macet di depan gedung DPR Senayan, 30 Maret 2012)

Bapak Presiden dan segenap aparat pemerintah,
tidak akan ada yang mau dibayar untuk demonstrasi jika rakyat Anda cukup sejahtera…
Maka saran saya: berhentilah dulu korupsi.

1.
Tingkatkan akses masyarakat atas pendidikan. Bukan hanya menggolkan sektor pendidikan mendapat 20% bagian dari RAPBN. Tapi juga mengawasi pemanfaatan dana tersebut dari hulu ke hilir. Melakukan re-orientasi pendidikan di Indonesia, hingga pembenahan kembali kurikulum. Anda semua harus berani berinventasi untuk sektor yang tidak seksi ini. Karena memang hasilnya baru akan terlihat pada puluhan tahun berikutnya.

Kesalahan kita sejak dulu adalah mengacuhkan pendidikan sebagai bagian dari pembangunan. Anda membangun jalan, membangun gedung-gedung tinggi, menebar lampu-lampu jalanan, membangun jembatan, tanpa membangun manusianya dengan pendidikan. Maka jalan Anda yang mulus itu harus diberi polisi tidur agar pengendara sedikit intelek bermain kecepatan, lampu-lampu di halte harus dikerangkengi agar tak dicuri, gedung-gedung besar diisi oleh ekspatriat dan orang kita cuma kebagian area pantry. Jembatan pun harus sering Anda perbaiki karena besi-besinya hilang.

 Berhentilah “membangun” infrastruktur fisik. Walaupun akan banyak dari Anda yang kehilangan lahan basah proyek.

2.
Lupakan BUMN raksasa, hentikan berkubang di kilang minyak, tahan hasrat berenang di kolam moneter. FOKUS pada maksimalisasi koperasi dan UKM!

Krisis dunia kemarin membuktikan, Indonesia menjadi Negara tangguh, bahkan dengan pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan dunia. Sungguh, bukan karena kehebatan tim moneter Anda. Tapi karena kemampuan ekonomi mikro rakyat Anda. Karena kemampuan masyarakat menyediakan barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kekuatan bertahan itu bernama sektor ekonomi riil yang disokong penuh oleh UKM dan “koperasi-koperasi” organik yang tidak didaftarkan.

Maka berhentilah menghadiahi posisi Menteri UKM dan Koperasi pada orang dekat yang tidak kapabel. Menteri yang sekarang adalah sesepuh partai Anda yang program terlihatnya hanya membuka pameran produk UKM. Menteri sebelumnya pun Anda berikan pada ketua partai koalisi, yang kalau tidak jadi Menteri Koperasi dan UKM, ya bisa jadi Menteri Dalam Negeri, bisa jadi Menteri Agama, bisa jadi Menteri “pajangan” lain, tergantung seberapa besar partainya menyumbang suara.

3.
Dan jika Anda memang berniat mengalihkan subsidi BBM ke Bantuan Langsung Tunai, tolong kerjakan dengan benar. Tolong pastikan raja-raja kecil di daerah tidak memanfaatkan program ini untuk memperpanjang masa kekuasaan mereka. Sebab yang sering terjadi, bantuan dari pemerintah apapun nama programnya, dijadikan kail untuk memancing suara. 50 persen diberikan sekarang kepada rakyat yang kelaparan, 50% persen lagi diberikan (istilahnya: programnya akan diteruskan) jika mereka kembali terpilih.

***
Setelah kami semua kaya raya, tak akan ada yang mau berpanas-panas demonstrasi. Setelah kami semua berpendidikan tinggi, kami akan lebih memilih menulis artikel di Koran untuk menyampaikan protes dan tidak dengan membakar ban. Setelah kami memiliki UKM yang sehat, dan dapat hidup karenanya, kami tak akan lagi peduli berapa banyak BUMN dan perusahaan blue-chip yang Anda privatisasi dan jual ke pihak asing, toh kami sudah punya perusahaan sendiri.

Setelah itu semua terjadi, silakan kembali korupsi.